Senin, 01 Februari 2010

Mengubah Status Teman Menjadi Pacar


Mengubah hubungan pertemanan menjadi romantisme memang bukan perkara mudah. Apalagi jika Anda dan si dia sudah merasa nyaman sebagai teman dekat.

Namun, perasaan tidak bisa dibohongi. Ketika sudah muncul kekaguman lebih, dan keinginan untuk memiliki hubungan yang tak sekadar teman, bagaimana cara paling aman untuk mengatakannya?

Pastinya, Anda harus menyampaikan perasaan Anda dengan jujur. Jika tidak, sikap Anda terhadap pria ini menjadi canggung. Niat Anda menjadikannya kekasih pun tak kesampaian. Ada tiga cara untuk mengatakannya:

1. Katakan terus terang apa adanya
Ini adalah cara paling sederhana, dan Anda bisa langsung menemukan jawaban apakah si dia berpikir sama. Resikonya memang lebih tinggi. Akan menjadi melegakan jika ternyata si dia punya perasaan yang sama. Jika tidak, wajar saja jika Anda kecewa bahkan malu dan menjadi tidak nyaman dengan kelanjutan pertemanan Anda. Meski begitu, pemilihan waktu yang tepat bisa menjadi strategi jitu untuk cara ini. Cari waktu tepat, jangan terlalu lama menunggu namun
juga jangan terburu-buru. Gunakan intuisi Anda!


2. Menghilang beberapa saat
Jika cara pertama tak berhasil, atau tidak tepat untuk Anda, cara yang ini boleh dibilang lebih aman. Menghilanglah dari pergaulan beberapa saat. Si dia bisa jadi merindukan Anda, dan begitu Anda kembali, dia akan lebih agresif mendekati. Jika ternyata si dia bersikap biasa saja, Anda sudah bisa menebak apa jawabannya, bukan? Bisa jadi Anda hanya dianggap teman biasa olehnya.

Cara ini dikategorikan sebagai permainan, dan bagi sebagian orang permainan macam ini tak menarik. Si dia bisa saja merasa aneh dengan kepergian Anda yang tiba-tiba dan seperti disengaja. Tujuan Anda mengambil hatinya justru berbalik membuatnya tak lagi menaruh perhatian pada Anda. Sebelum memutuskan untuk menghilang, sebaiknya kenali dulu karakternya.

3. Lebih sering jalan bareng, berdua saja
Biasanya, Anda jalan bareng dengan sekumpulan teman-teman dan si dia. Kali ini, cari waktu berdua. Cara ini lebih natural, jujur, dan lebih aman untuk memulai pendekatan. Anda bisa lebih leluasa mengenal si dia. Cara ini memungkinkan untuk memunculkan percikan kecil yang bisa saja terjadi jika ternyata si dia menyimpan rasa yang sama. Misalkan kecupan kecil di kening atau pipi Anda misalnya. Nah, ini menjadi pertanda positif bukan?

Jika setelah jalan berdua hasilnya si dia biasa saja, dan ternyata justru mulai menjauh, Anda bisa memastikan bahwa ia tidak ingin serius dengan Anda. Dia lebih memilih menjadi teman daripada pacar.

Dari sini Anda bisa menilai, cara mana yang paling mungkin bisa dilakukan untuk mencari jawaban dari si Dia.

Disadur dari : http://female.kompas.com/read/xml/2010/01/19/19263218/mengubah.status.teman.menjadi.pacar

Pria: "Kami Bukan Takut Berkomitmen, Tapi...."


Secantik dan seseksi apa pun perempuan-perempuan yang pernah menjalin cinta dengannya, George Clooney hingga kini belum juga bertekuk lutut dan mengakhiri masa lajang. Menurut sejumlah pakar hubungan, Mr. Clooney -seperti juga banyak pria lainnya, kelewat serius menyikapi arti sebuah komitmen pernikahan. Akibatnya, ia justru jadi paranoid dan menghindari segala hal yang terkait dengan komitmen seumur hidup tersebut. Benarkah pria seperti itu?

Cemas Menghadapi Kata "Selamanya"
Normalnya, di dunia ini tidak ada orang yang berniat menikah hanya untuk sementara waktu saja. Apa pun yang akan terjadi di kemudian hari, ketika menikah, semua pasangan suami istri pasti berjanji akan saling mendampingi seumur hidup, alias selama-lamanya.

Selamanya? Itu berarti Anda akan tinggal bareng degan orang yang sama selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, hingga salah satu dari Anda menyelesaikan "kontrak hidup" di dunia ini. Wajah yang menghantar Anda tidur di malam hari dan bangun tidur setiap hari adalah wajah yang itu-itu juga. Anda pun mesti berbagi segala-galanya dengan pasangan, selama Anda berdua masih tinggal di bawah satu atap.

Menurut Carl Weisman, penulis buku So Why Have You Never Been Married? Pernyataan "hidup berdua selamanya" itu seringkali membuat pria jengah ketika diajak membawa hubungan pacaran ke jenjang yang lebih serius. Pada saat kaum Hawa melayang dimabuk cinta dan tidak memusingkan definisi kata "selamanya", kaum Adam justru sebaliknya. Kecenderungan berpikir secara logis membuat mereka mencacah arti kata "selamanya" ke dalam hitungan tahun atau bahkan hari, dan membayangkan apakah dirinya mampu bertahan selama jangka waktu tersebut untuk mendampingi satu orang yang sama.

Lebih Takut Perceraian Daripada Pernikahan
Mengapa begitu cemas menghadapi kata "selamanya"? Hal ini tak lain karena seorang pria--yang terbiasa berpikir secara rasional, amat menyadari risiko yang dihadapi oleh sebuah pernikahan. Yaitu, ancaman perceraian, "Menurut sebagian besar pria lajang yang saya teliti, perceraian adalah salah satu alasan mereka takut membina pernikahan. Jadi, sama sekali bukan pernikahannya itu sendiri," ujar Weisman.

Kok, belum apa-apa sudah takut akan bercerai? Kata Weisman, para pria yang ditelitinya menyadari bahwa di dunia ini setiap orang pasti berkembang dari waktu ke waktu. "Perkembangan itu pada akhirnya akan membuat diri seseorang berubah. Nah, para pria ini tidak yakin bahwa perubahan-perubahan yang terjadi pada diri suami maupun istri akan tetap membuat mereka cocok untuk terus hidup bersama dengan satu sama lain," ujarnya.

Keputusan untuk menikah atau tidak, menurut Weisman juga acap kali terkait dengan kesuksesan sorang pria di tempat kerja dan secara finansial. Keberhasilan mengaktualisasi diri di dalam karier akan membuat pria lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan selanjutnya, yaitu komitmen. Pundi-pundi uang yang penuh juga merupakan sebuah jaminan bahwa ia akan mampu menafkahi keluarganya di masa depan.

Bersabar dan Temukan Penyebabnya
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Weisman, jumlah pria berusia 40-44 tahun yang belum pernah menikah hanya 6 persen di tahun 1980. Yang mengejutkan, jumlah itu meroket menjadi 17 persen pada tahun 2000. Artinya, tantangan bagi perempuan zaman sekarang untuk mengajak pasangannya ke pelaminan juga semakin bertambah besar.

Lantas, bagaimana cara terbaik menghadapi pria yang alergi pada komitmen pernikahan? Menurut Weisman, langkah terbaik adalah dengan bertanya dan mencoba memahami apa yang menjadi penyebab pasangan Anda menunda menikah. "Pandanglah situasi ini dari sisi positifnya. Seorang pria yang tidak terlalu gampang memutuskan untuk menikah berarti menganggap pernikahan sebagai suatu hal yang berharga dan amat penting dalam hidupnya," ujarnya.

Tak ada salahnya untuk bersabar dan memberi waktu kepada pasangan Anda untuk berpikir ulang apakah akan tetap menunda pernikahan atau tidak. Sementara itu, lebih baik Anda mengisi waktu dengan melakukan berbagai hal yang mampu meningkatkan kualitas diri Anda sebagai seorang pribadi. Pasalnya, sebagian besar pria lajang yang diteliti oleh Weisman menyatakan akan mengakhiri masa lajangnya apabila telah menemukan pasangan yang tepat.

Makanya, ketimbang bete menanti kekasih mengubah pikiran, lebih baik Anda bersikap proaktif dan melakukan hal-hal yang diperlukan untuk menjadikan diri Anda seorang "wife material". Kalaupun bukan si dia yang menyambar kesempatan untuk mengajak Anda ke pelaminan, di luar sana akan selalu ada pria yang bersedia membuka hatinya bagi Anda.

Disadur dari : http://female.kompas.com/read/xml/2010/01/20/12513264/pria.kami.bukan.takut.berkomitmen.tapi....

Mengajak Suami Nonton Film Porno


Saya tidak suka kalau suami diam-diam nonton video porno. Saya lebih suka menontonnya berdua. Bagaimana ya, caranya supaya ia mau mencoba nonton film biru dengan saya?" (Surat dari Jenny, 33 tahun)

Anda pasti sudah pernah mendengar, bahwa pria menikmati pornografi sama seperti wanita menikmati halaman mode di majalah fashion. Tetapi, film porno kan bisa dinikmati bersama sebagai pasangan? Siapa tahu nanti ada ide untuk mencoba posisi tertentu?

"Kebanyakan pria memang senang mencoba sesuatu yang mereka tahu bisa merangsang pasangannya," ujar Lou Paget, penulis The Great Lover Playbook. "Sampaikan hal ini sebelum Anda berdua masuk ke kamar tidur. Katanya, 'Aku ingin sedikit bereksperimen malam ini. Aku enggak suka kalau kamu nonton film porno sendirian, soalnya... (katakan alasan Anda). Kenapa kita enggak nonton bareng aja?'."

Cara ini, menurut Paget, tidak jauh berbeda dengan ketika Anda berdiskusi dengan suami untuk mencari tempat yang enak untuk makan, atau saat ingin membeli mobil baru. Justru di sinilah kesempatan untuk berkomunikasi dan menemukan sesuatu yang baru sebagai pasangan.

Tentunya, Anda bisa mencari film dengan plot yang cukup menarik. Dari situ Anda tetap akan menemukan bintang yang bertubuh indah, namun dengan skenario yang cukup terjaga dan plot yang berkembang. Film yang tidak ada konsep cerita atau dialog, dan hanya menonjolkan adegan-adegan panas, tidak akan memberikan "sesuatu" untuk Anda.

"Kemudian duduklah bersama suami di tempat tidur, pangku laptop Anda, lalu cari film yang Anda inginkan, dan komunikasikan apa yang Anda sukai," ujar Paget.

Mengenai kebiasaan suami "bersolo karir", Anda mungkin perlu mencoba untuk menerimanya, atau, setidaknya mentoleransinya selama hal itu tidak mengacaukan hidupnya dan hidup Anda.

"Hal ini merupakan satu contoh tindakan seksual pribadi yang dihadapi sebagian orang, meskipun mereka mempunyai hubungan yang bahagia bersama pasangannya," tambah Paget. "Anda juga bisa menikmatinya selama pornografi dijadikan aktivitas berdua bersama suami."

Disadur dari : http://female.kompas.com/read/xml/2010/01/20/11310199/mengajak.suami.nonton.film.porno

64 Persen Wanita Tak Puas dengan Kehidupan Seksnya


Ternyata, tak hanya kaum perempuan yang tidak puas dengan kehidupan seksualnya, tetapi juga pria. Dari survei Asia Pacific Sexual Health and Overall Wellness atau APSHOW tahun 2008, ditemukan kenyataan bahwa 57 persen pria dan 64 persen perempuan tidak merasa puas dengan kehidupan seksual mereka. Survei APSHOW yang dirilis produsen obat Pfizer dan dilakukan di 13 negara dari kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, ini mengirimkan data responden sebanyak 328 pria dan 250 perempuan.

Kebanyakan kasus yang terjadi umumnya disebabkan pria tidak memiliki kemampuan mempertahankan ereksi penis yang memadai untuk melakukan hubungan seksual yang memuaskan, atau disebut disfungsi ereksi. Sayangnya, hanya sedikit kasus disfungsi ereksi yang terungkap dan mendapat penanganan medis yang tepat. Hanya sekitar 13 persen penderita yang sudah tanggap informasi sehingga mau mencari pengobatan yang benar.

Adapun sebagian besar lainnya menutup diri karena tidak mengerti, malu, menganggap hal itu bukan penyakit, dan kemungkinan karena dokter yang menangani tidak siap.

Tingkat kerasnya ereksi pada pria menentukan kualitas hubungan seksual. Ketika seorang pria berhasil mendapatkan tingkat kerasnya ereksi secara maksimal, maka pasangan bisa mendapatkan tingkat kepuasan yang optimal, dan secara individu mampu mendapatkan rasa utuh pada sisi kehidupan yang lainnya.

Dari hasil penelitian juga terungkap bahwa sebagian besar penyebab perempuan sulit untuk mencapai orgasme adalah faktor suami.

''Kebanyakan memang faktor suaminya. Misalnya, ereksi tidak bagus, ejakulasi dini, dan ketidakmampuan untuk merangsang istri, atau kurang foreplay,'' ujar Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, SpAnd, FAACS, Ketua Asosiasi Seksologi Indonesia dan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

Dari sisi perempuan, ketidakpuasan seksual juga disebabkan perempuan enggan berdiskusi soal seks dengan pasangan sehingga mereka tidak terbuka saat gagal mencapai orgasme.

''Perempuan juga punya andil. Misalnya dia mengalami sakit diabetes, gangguan hormonal saat mau datang bulan, atau akibat kadar testosteron dan esterogen yang mengatur alat vital dalam tubuhnya mengalami gangguan,'' papar Wimpie.

Satu hal lagi yang tidak kalah penting adalah suasana atau faktor lingkungan. ''Misalnya perempuan tidak sedang mood untuk berhubungan karena habis bertengkar, atau karena ada hal-hal yang belum terselesaikan sehingga ia tidak fokus dengan hubungan intim itu,'' paparnya.

Disadur dari : http://female.kompas.com/read/xml/2010/01/20/13003475/64.persen.wanita.tak.puas.dengan.kehidupan.seksnya

55% Pria Tak Puas dengan Ukuran Mr P-nya


Kebanyakan pria memusingkan ukuran "properti"-nya. Tak sedikit pria yang merasa rendah diri ketika menyangkut hal tersebut.

Situs askmen.com menanyakan kepada 50.000 pria dan wanita mengenai ukuran dan kepuasan. Para relawan ditanya mengenai kepuasan para wanita terhadap ukuran penis pasangannya, dan hasilnya, sebanyak 85 persen wanita merasa puas akan ukuran penis pasangannya. Namun, hanya 55 persen pria yang puas dengan ukurannya sendiri. Artinya, para wanita lebih memaklumi keadaan penis pasangannya, dan tidak merasa kesulitan untuk menikmatinya.

Memangnya, berapa sih ukuran normal penis seorang pria? Dan, seberapa besar pengaruh ukuran penis terhadap kepuasaan seksual wanita?

Dikutip dari netdoctor.co.uk, ukuran rata-rata penis pria yang tidak sedang ereksi adalah di kisaran 8,5 cm-10,5 cm dari ujung hingga pangkal. Sementara situs konseling.net, mengatakan bahwa menurut penelitian yang dilakukan di Singapura pada tahun 2000, secara rata-rata, ukuran penis pria saat tidak ereksi sekitar 8 cm, dan saat ereksi, bertambah menjadi sekitar 12 cm. Untuk ukuran lingkar penis (bukan diameter) kala tidak ereksi sekitar 8,5 cm, dan menjadi 11 cm saat ereksi.

Sama seperti payudara wanita, setiap penis juga memiliki karakteristik berbeda, dan tak ada konsensus mengenai berapa ukuran penis yang ideal. Bagi wanita, vagina merupakan organ tubuh yang cukup mudah beradaptasi dengan berapa pun ukuran penis. Tak ada penelitian yang mengatakan bahwa semakin besar ukuran penis, makin tinggi pula kenikmatan yang dirasakan wanita. Jika ditanyakan mana yang lebih penting, ukuran atau kemampuan (skill), wanita pasti akan menjawab, lebih penting kemampuan (skill) ketimbang ukuran penis.

Menurut askmen.com dan netdoctor.com, ukuran vagina wanita yang belum pernah mengandung adalah sekitar 7,5 cm dalam keadaan biasa, sementara ketika sedang terangsang, bisa mengembang hingga 10 cm. Vagina merupakan organ yang memiliki kemampuan mengembang jika ada benda berukuran cukup besar masuk ke dalamnya secara perlahan. Namun, meski ada penis yang berukuran besar sekalipun, hal tersebut tak akan terlalu berpengaruh terhadap kepuasan wanita. Karena di dalam vagina, hanya sepertiga pintu vagina yang memiliki ujung saraf yang bisa merasakan sensasi kepuasan. Menurut survei, 90 persen wanita lebih memilih penis yang tebal ketimbang panjang karena penis yang panjang tidak memiliki banyak perbedaan dalam kepuasan seksual.

Nah, jika Anda memiliki pasangan yang tidak percaya diri akan ukurannya, katakan padanya bahwa Anda menikmati "properti"-nya apa adanya. Yang penting, ia bisa memuaskan Anda dengan kemampuannya (skill) dalam membawa Anda menikmati momen intim bersamanya -baik dari segi foreplay, teknik, posisi, dan visual.

Disadur dari : http://female.kompas.com/read/xml/2010/01/21/19234642/55.pria.tak.puas.dengan.ukuran.mr.p-nya

4 Kesalahan Saat Malam Pertama


Malam pertama memang malam yang ditunggu-tunggu pasangan yang baru saja menikah. Tak jarang perempuan merasa canggung, tegang, dan takut. Bahkan, ada juga yang menjadi overacting.

Rasa malu atau takut umumnya memang dialami perempuan yang belum pernah melakukan hubungan intim. Mereka mungkin tidak siap jika harus berbagi secara total dengan pasangannya, tak hanya berbagi perasaan, tetapi juga fisik. Sekadar tidur bersama sih okelah, tetapi membuka seluruh pakaian di hadapan pria, berdua saja di dalam kamar yang tertutup?

Gabungan antara perasaan takut, malu, risi, deg-degan (tapi juga sedikit excited) itu akhirnya membuat sebagian perempuan melakukan hal-hal yang membuat shock pasangannya. Ingin tahu apa saja yang kerap dilakukan perempuan pada malam pertamanya?

1. Mendadak sakit kepala. Karena malu, risi, ditambah panik suami bakal memaksa untuk langsung berhubungan, Anda pun terus mencoba bertahan. Caranya, dengan berpura-pura mengantuk, kepala sedang pusing, atau menunda-nunda selama mungkin. Seorang perempuan, sebut saja Santi (32), mengaku hingga tiga bulan pertama setelah menikah masih belum berani melepas seluruh pakaiannya di depan suami. "Pas malam pertama, saya ngumpet terus, takut disuruh buka baju. Suami saya sampai bilang, 'Masa sama suami sendiri malu sih'?" ucapnya, menirukan.

Saran: Sesuatu yang dipaksakan hasilnya memang kurang baik. Jika Anda memang masih risi, katakan terus terang kepada suami dan jangan malah "lari dari kenyataan" alias kabur dari kamar. Berusahalah untuk rileks saat berbaring dengan suami. Minta suami untuk tidak terburu-buru menyergap Anda. Waktu demi waktu, ketika Anda sudah lebih santai, biarkan suami membimbing langkah Anda selanjutnya.

2. Terlalu banyak teori. Agar malam pertama berjalan lancar dan tidak menegangkan, banyak perempuan yang berusaha membekali diri dengan membaca buku tentang seks atau bertanya kepada teman-temannya yang sudah menikah. Pertanyaan seperti sebanyak apakah darah yang keluar (akibat selaput dara robek) atau gerakan apa yang harus dilakukan saat penetrasi sudah terjadi paling sering membuat perempuan pening. Vita (29), misalnya. Yang terjadi saat malam pertama justru teori-teori tersebut menguap entah ke mana. Maklum, saat itu ia dan pasangannya sama-sama risi untuk menjelajahi satu sama lain.

Saran: Making love is about having fun. Jadi, tak perlu terlalu mengikuti aturan yang ada di buku panduan. Tak usah terlalu tegang saat menghadapinya. Ketegangan hanya membuat suasana menjadi rusak dan suami kehilangan mood untuk berdekatan dengan Anda.

Seks juga bukan sesuatu yang harus dipelajari karena hal ini sifatnya alami pada diri manusia. Tak usah berpikir apakah Anda harus punya teknik andalan, apakah Anda harus tampil telanjang, ataukah lampu harus tetap menyala atau redup. Biarkan saja semua berjalan apa adanya. Kebanyakan perempuan mencari-cari referensi lewat buku atau sejumlah film porno, yang hanya membuat mereka makin tegang karena tak ingin salah melakukannya.

3. Om-do, alias omong doang! Banyak orang sebenarnya tidak tampil seperti dirinya yang asli. Misalnya, si A yang sering gembar-gembor mengenai pengalamannya di atas ranjang atau si B yang sering ngomong jorok (porno, maksudnya) ternyata masih polos. Si C yang pendiam ternyata justru sangat berpengalaman. Begitu pula dengan Atiek (43, bukan nama sebenarnya).

Perempuan yang dikenal tak bisa berhenti bicara barang 5 menit ini pun akhirnya takluk kepada sang suami yang berkarakter kebalikan dari dirinya (kalau tidak diajak bicara, bisa seharian tidak bicara). Saat malam pertamanya, 12 tahun lalu, Atiek kaget melihat keganasan suaminya. Sebaliknya, ia hanya bisa mengikuti arahan sang suami. "Ternyata selama ini gue om-do!" serunya sambil tertawa berderai-derai.

Saran: Untuk Anda yang memang om-do, sudahlah, jelaskan terus terang kepada suami bahwa Anda memang sedikit tegang. Kalau kebetulan Anda punya suami yang ternyata lebih berpengalaman sih, tak masalah. Jika suami juga pemalu atau tidak tahu apa yang harus dilakukan, tentu akhirnya jadi kacau. Meskipun begitu, banyak juga pasangan yang menikmati saja malam pertama yang gagal akibat sama-sama tidak berpengalaman.

4. Bergaya ala bintang porno. Saking penginnya tampil sensual (dan terlihat berpengalaman), Anda mengingat-ingat film porno yang pernah Anda tonton, lalu mempraktikkannya di depan suami. Anda pun membuka pakaian satu per satu bak seorang stripper, seperti dada Anda berdegup kencang. Sambil ngoceh panjang lebar untuk menutupi rasa panik, Anda lalu membuat gerakan-gerakan erotis sekaligus membelai suami di bagian mana pun yang menurut Anda sensitif.

Saran: Bila Anda memang belum berpengalaman, tak usah melakukan aksi berlebihan seperti ini. Tak usah bereksplorasi terlalu berani, misalnya dengan memakai pakaian atau atribut semacam pecut, borgol, stoking berikut garter belt-nya, atau apa pun yang sering Anda lihat di film. Bagaimanapun, tak semua pria memiliki fantasi semacam itu. Salah-salah, Anda dikira sudah sering beraksi seperti itu di hadapan pria lain. Lebih baik diskusikan sebelumnya dengan suami apa yang ingin Anda lakukan berdua saat itu. Seperti yang dilakukan Asti (28).

''Dulu sih kami mencari tahu apa yang dimaui pasangan, misalnya dengan nonton film porno bareng. Tapi, terkadang tidak semua yang kami lihat pasti dicoba. Kadang kalau gayanya terlalu ekstrem, malam jadi seperti sirkus,'' jelas ibu satu anak yang bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi ini. Ia juga mengaku ajakan untuk melakukan seks yang ekstrem lebih banyak dari suami.

Disadur dari : http://female.kompas.com/read/xml/2010/01/22/1105243/4.kesalahan.saat.malam.pertama


Usia-usia Pernikahan Rentan Masalah


Menurut Tiwin Herman, M.Psi, pernikahan adalah komitmen dari sepasang insan untuk saling menyesuaikan diri secara terus-menerus. Serangkaian konflik yang khas, biasanya, muncul di tahun-tahun tertentu pernikahan. Keterampilan menyelesaikan masalah akan semakin memperkuat hubungan suami-istri. Berikut masa-masa rentan itu dan cara menghadapinya.

Di Bawah 5 Tahun
Tahun-tahun pertama pernikahan merupakan masa yang sangat riskan. Hal ini disebabkan oleh proses penyesuaian diri yang terhambat. Banyak istri atau suami yang mengeluh bahwa sifat dan sikap pasangannya berubah setelah menikah, tidak seperti saat pacaran.

Dalam proses ini, karena usia pernikahan masih baru, toleransi antarpasangan masih sangat tinggi. Jika di masa ini sudah mulai ada maslah yang tidak terselesaikan dan menyebabkan komunikasi berjalan tidak lancar, pasangan suami istri biasanya merasa tidak puas. Masalah-masalah baru pun akan bermunculan bila ketidakpuasan tersebut tidak diungkapkan.

Tahun kedua pernikahan dan selanjutnya peran suami istri berganti menjadi orangtua, seiring lahirnya anak pertama. Dengan peran baru sebagai orangtua, pasangan harus mempelajari banyak hal, termasuk bagaimana menjadi mitra yang baik dalam membesarkan anak.

Cara Menghadapi: Pada masa ini, watak asli pasangan mulai muncul. Meski telah melalui proses pacaran, pernikahan selalu diawali dengan kejutan-kejutan kecil seputar sifat atau kebiasaan pasangan. Setiap pasangan seharusnya saling memahami kondisi ini. Mereka juga dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk saling mengenal lebih dalam lagi, baik secara fisik, emosi, kebiasaan, minat, hobi, dan lain-lain.

Soal cara mendidik anak, latar belakang keluarga yang berbeda, umumnya, berdampak pada pola pengasuhan anak. Diperlukan kebesaran hati untuk bisa memadukan kedua pola asuh yang berbeda atau merumuskan sendiri pola asuh yang pas. Masalah keuangan pun demikian. Karena urusan keuangan sangat sensitif, pembagian peran dalam keuangan keluarga harus jelas sejak awal pernikahan.

Di Atas 20 Tahun
Masa rentan yang dihadapi pada usia pernikahan di atas 20 tahun lebih disebabkan oleh toleransi yang sudah mulai berkurang. Perpisahan pada masa ini, biasanya, karena memang sudah ada masalah pada awal pernikahan namun mereka memilih bertahan dengan berbagai alasan normatif, misalnya: takut mengecewakan keluarga atau dicemooh masyarakat. Namun, alasan yang paling klasik adalah anak-anak. Akhirnya, ketika anak-anak sudah jalan cukup dewasa dan mandiri, jalan perpisahan pun diambil.

Kasus lain yang saat ini juga banyak adalah karena pasangan bermain api dengan orang lain. Hal itu terjadi karena tingkat kejenuhan yang sudah akut. Selama berpuluh-puluh tahun, Anda dan pasangan menjalani hidup berdua tanpa variasi. Di samping itu, usia tua memang biasanya membuat seseorang menjadi lebih sensitif. Sikap sensitif tersebut bisa berwujud rasa terabaikan atau merasa tidak dihargai lagi. Hal ini membuat pasangan menajdi tidak tahan serta frustasi dan memilih untuk berpisah.

Cara Menghadapi: Saat akan memasuki masa ini, ajaklah pasangan untuk berbicara dari hati ke hati. Tanyakan bagaimana perasaan dan gairah cinta mereka. Bila sudah merasa hambar, Anda dan pasangan harus mendiskusikan cara untuk menghidupkan kembali api cinta kalian. Definisikan kembali tujuan pernikahan Anda. Kemukakanlah hal-hal yang paling disukai dan dibenci dari masing-masing pasangan. Kemudian, berintrospeksilah dan perbaiki diri sesuai harapan masing-masing.

Tanyakan juga padanya kekecewaan yang selama ini dirasakannya dan perubahan apa yang paling diinginkannya dari diri Anda. Dengarkanlah tanpa harus bersikap reaktif. Pahami pola pikirnya dan ekspresikan rasa empati Anda. Dengan begitu, pasangan akan bersikap sama dan rumah tangga yang hambar akan kembali hidup.

Bantuan Pihak Ketiga
Meski usia pernikahan saat ini tidak termasuk yang rentan masalah, bukan berarti Anda "bebas" dari masalah. Sudah pasti setiap rumah tangga mempunyai konflik. Yang perlu dicatat, konflik atau masalah itu harus dihadapi. Bila Anda menghindari konflik atau berpura-pura tidak terjadi apa-apa, hal tersebut hanya akan membuat "api dalam sekam". Bila dirasa perlu, Anda boleh menggunakan pihak ketiga, yaitu orangtua, mertua, pemuka agama, atau konsultan pernikahan.

Selain itu, tak ada salahnya bila Anda dan pasangan bertukar pikiran pada orangtua atau pasangan yang berhasil membina rumah tangganya. Tanyakan dan pelajarilah resep pernikahan mereka sehingga dapat bertahan lama.

Disadur dari : http://female.kompas.com/read/xml/2010/01/23/09432140/usia-usia.pernikahan.rentan.masalah