Senin, 01 Februari 2010

64 Persen Wanita Tak Puas dengan Kehidupan Seksnya


Ternyata, tak hanya kaum perempuan yang tidak puas dengan kehidupan seksualnya, tetapi juga pria. Dari survei Asia Pacific Sexual Health and Overall Wellness atau APSHOW tahun 2008, ditemukan kenyataan bahwa 57 persen pria dan 64 persen perempuan tidak merasa puas dengan kehidupan seksual mereka. Survei APSHOW yang dirilis produsen obat Pfizer dan dilakukan di 13 negara dari kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, ini mengirimkan data responden sebanyak 328 pria dan 250 perempuan.

Kebanyakan kasus yang terjadi umumnya disebabkan pria tidak memiliki kemampuan mempertahankan ereksi penis yang memadai untuk melakukan hubungan seksual yang memuaskan, atau disebut disfungsi ereksi. Sayangnya, hanya sedikit kasus disfungsi ereksi yang terungkap dan mendapat penanganan medis yang tepat. Hanya sekitar 13 persen penderita yang sudah tanggap informasi sehingga mau mencari pengobatan yang benar.

Adapun sebagian besar lainnya menutup diri karena tidak mengerti, malu, menganggap hal itu bukan penyakit, dan kemungkinan karena dokter yang menangani tidak siap.

Tingkat kerasnya ereksi pada pria menentukan kualitas hubungan seksual. Ketika seorang pria berhasil mendapatkan tingkat kerasnya ereksi secara maksimal, maka pasangan bisa mendapatkan tingkat kepuasan yang optimal, dan secara individu mampu mendapatkan rasa utuh pada sisi kehidupan yang lainnya.

Dari hasil penelitian juga terungkap bahwa sebagian besar penyebab perempuan sulit untuk mencapai orgasme adalah faktor suami.

''Kebanyakan memang faktor suaminya. Misalnya, ereksi tidak bagus, ejakulasi dini, dan ketidakmampuan untuk merangsang istri, atau kurang foreplay,'' ujar Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, SpAnd, FAACS, Ketua Asosiasi Seksologi Indonesia dan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

Dari sisi perempuan, ketidakpuasan seksual juga disebabkan perempuan enggan berdiskusi soal seks dengan pasangan sehingga mereka tidak terbuka saat gagal mencapai orgasme.

''Perempuan juga punya andil. Misalnya dia mengalami sakit diabetes, gangguan hormonal saat mau datang bulan, atau akibat kadar testosteron dan esterogen yang mengatur alat vital dalam tubuhnya mengalami gangguan,'' papar Wimpie.

Satu hal lagi yang tidak kalah penting adalah suasana atau faktor lingkungan. ''Misalnya perempuan tidak sedang mood untuk berhubungan karena habis bertengkar, atau karena ada hal-hal yang belum terselesaikan sehingga ia tidak fokus dengan hubungan intim itu,'' paparnya.

Disadur dari : http://female.kompas.com/read/xml/2010/01/20/13003475/64.persen.wanita.tak.puas.dengan.kehidupan.seksnya

55% Pria Tak Puas dengan Ukuran Mr P-nya


Kebanyakan pria memusingkan ukuran "properti"-nya. Tak sedikit pria yang merasa rendah diri ketika menyangkut hal tersebut.

Situs askmen.com menanyakan kepada 50.000 pria dan wanita mengenai ukuran dan kepuasan. Para relawan ditanya mengenai kepuasan para wanita terhadap ukuran penis pasangannya, dan hasilnya, sebanyak 85 persen wanita merasa puas akan ukuran penis pasangannya. Namun, hanya 55 persen pria yang puas dengan ukurannya sendiri. Artinya, para wanita lebih memaklumi keadaan penis pasangannya, dan tidak merasa kesulitan untuk menikmatinya.

Memangnya, berapa sih ukuran normal penis seorang pria? Dan, seberapa besar pengaruh ukuran penis terhadap kepuasaan seksual wanita?

Dikutip dari netdoctor.co.uk, ukuran rata-rata penis pria yang tidak sedang ereksi adalah di kisaran 8,5 cm-10,5 cm dari ujung hingga pangkal. Sementara situs konseling.net, mengatakan bahwa menurut penelitian yang dilakukan di Singapura pada tahun 2000, secara rata-rata, ukuran penis pria saat tidak ereksi sekitar 8 cm, dan saat ereksi, bertambah menjadi sekitar 12 cm. Untuk ukuran lingkar penis (bukan diameter) kala tidak ereksi sekitar 8,5 cm, dan menjadi 11 cm saat ereksi.

Sama seperti payudara wanita, setiap penis juga memiliki karakteristik berbeda, dan tak ada konsensus mengenai berapa ukuran penis yang ideal. Bagi wanita, vagina merupakan organ tubuh yang cukup mudah beradaptasi dengan berapa pun ukuran penis. Tak ada penelitian yang mengatakan bahwa semakin besar ukuran penis, makin tinggi pula kenikmatan yang dirasakan wanita. Jika ditanyakan mana yang lebih penting, ukuran atau kemampuan (skill), wanita pasti akan menjawab, lebih penting kemampuan (skill) ketimbang ukuran penis.

Menurut askmen.com dan netdoctor.com, ukuran vagina wanita yang belum pernah mengandung adalah sekitar 7,5 cm dalam keadaan biasa, sementara ketika sedang terangsang, bisa mengembang hingga 10 cm. Vagina merupakan organ yang memiliki kemampuan mengembang jika ada benda berukuran cukup besar masuk ke dalamnya secara perlahan. Namun, meski ada penis yang berukuran besar sekalipun, hal tersebut tak akan terlalu berpengaruh terhadap kepuasan wanita. Karena di dalam vagina, hanya sepertiga pintu vagina yang memiliki ujung saraf yang bisa merasakan sensasi kepuasan. Menurut survei, 90 persen wanita lebih memilih penis yang tebal ketimbang panjang karena penis yang panjang tidak memiliki banyak perbedaan dalam kepuasan seksual.

Nah, jika Anda memiliki pasangan yang tidak percaya diri akan ukurannya, katakan padanya bahwa Anda menikmati "properti"-nya apa adanya. Yang penting, ia bisa memuaskan Anda dengan kemampuannya (skill) dalam membawa Anda menikmati momen intim bersamanya -baik dari segi foreplay, teknik, posisi, dan visual.

Disadur dari : http://female.kompas.com/read/xml/2010/01/21/19234642/55.pria.tak.puas.dengan.ukuran.mr.p-nya

4 Kesalahan Saat Malam Pertama


Malam pertama memang malam yang ditunggu-tunggu pasangan yang baru saja menikah. Tak jarang perempuan merasa canggung, tegang, dan takut. Bahkan, ada juga yang menjadi overacting.

Rasa malu atau takut umumnya memang dialami perempuan yang belum pernah melakukan hubungan intim. Mereka mungkin tidak siap jika harus berbagi secara total dengan pasangannya, tak hanya berbagi perasaan, tetapi juga fisik. Sekadar tidur bersama sih okelah, tetapi membuka seluruh pakaian di hadapan pria, berdua saja di dalam kamar yang tertutup?

Gabungan antara perasaan takut, malu, risi, deg-degan (tapi juga sedikit excited) itu akhirnya membuat sebagian perempuan melakukan hal-hal yang membuat shock pasangannya. Ingin tahu apa saja yang kerap dilakukan perempuan pada malam pertamanya?

1. Mendadak sakit kepala. Karena malu, risi, ditambah panik suami bakal memaksa untuk langsung berhubungan, Anda pun terus mencoba bertahan. Caranya, dengan berpura-pura mengantuk, kepala sedang pusing, atau menunda-nunda selama mungkin. Seorang perempuan, sebut saja Santi (32), mengaku hingga tiga bulan pertama setelah menikah masih belum berani melepas seluruh pakaiannya di depan suami. "Pas malam pertama, saya ngumpet terus, takut disuruh buka baju. Suami saya sampai bilang, 'Masa sama suami sendiri malu sih'?" ucapnya, menirukan.

Saran: Sesuatu yang dipaksakan hasilnya memang kurang baik. Jika Anda memang masih risi, katakan terus terang kepada suami dan jangan malah "lari dari kenyataan" alias kabur dari kamar. Berusahalah untuk rileks saat berbaring dengan suami. Minta suami untuk tidak terburu-buru menyergap Anda. Waktu demi waktu, ketika Anda sudah lebih santai, biarkan suami membimbing langkah Anda selanjutnya.

2. Terlalu banyak teori. Agar malam pertama berjalan lancar dan tidak menegangkan, banyak perempuan yang berusaha membekali diri dengan membaca buku tentang seks atau bertanya kepada teman-temannya yang sudah menikah. Pertanyaan seperti sebanyak apakah darah yang keluar (akibat selaput dara robek) atau gerakan apa yang harus dilakukan saat penetrasi sudah terjadi paling sering membuat perempuan pening. Vita (29), misalnya. Yang terjadi saat malam pertama justru teori-teori tersebut menguap entah ke mana. Maklum, saat itu ia dan pasangannya sama-sama risi untuk menjelajahi satu sama lain.

Saran: Making love is about having fun. Jadi, tak perlu terlalu mengikuti aturan yang ada di buku panduan. Tak usah terlalu tegang saat menghadapinya. Ketegangan hanya membuat suasana menjadi rusak dan suami kehilangan mood untuk berdekatan dengan Anda.

Seks juga bukan sesuatu yang harus dipelajari karena hal ini sifatnya alami pada diri manusia. Tak usah berpikir apakah Anda harus punya teknik andalan, apakah Anda harus tampil telanjang, ataukah lampu harus tetap menyala atau redup. Biarkan saja semua berjalan apa adanya. Kebanyakan perempuan mencari-cari referensi lewat buku atau sejumlah film porno, yang hanya membuat mereka makin tegang karena tak ingin salah melakukannya.

3. Om-do, alias omong doang! Banyak orang sebenarnya tidak tampil seperti dirinya yang asli. Misalnya, si A yang sering gembar-gembor mengenai pengalamannya di atas ranjang atau si B yang sering ngomong jorok (porno, maksudnya) ternyata masih polos. Si C yang pendiam ternyata justru sangat berpengalaman. Begitu pula dengan Atiek (43, bukan nama sebenarnya).

Perempuan yang dikenal tak bisa berhenti bicara barang 5 menit ini pun akhirnya takluk kepada sang suami yang berkarakter kebalikan dari dirinya (kalau tidak diajak bicara, bisa seharian tidak bicara). Saat malam pertamanya, 12 tahun lalu, Atiek kaget melihat keganasan suaminya. Sebaliknya, ia hanya bisa mengikuti arahan sang suami. "Ternyata selama ini gue om-do!" serunya sambil tertawa berderai-derai.

Saran: Untuk Anda yang memang om-do, sudahlah, jelaskan terus terang kepada suami bahwa Anda memang sedikit tegang. Kalau kebetulan Anda punya suami yang ternyata lebih berpengalaman sih, tak masalah. Jika suami juga pemalu atau tidak tahu apa yang harus dilakukan, tentu akhirnya jadi kacau. Meskipun begitu, banyak juga pasangan yang menikmati saja malam pertama yang gagal akibat sama-sama tidak berpengalaman.

4. Bergaya ala bintang porno. Saking penginnya tampil sensual (dan terlihat berpengalaman), Anda mengingat-ingat film porno yang pernah Anda tonton, lalu mempraktikkannya di depan suami. Anda pun membuka pakaian satu per satu bak seorang stripper, seperti dada Anda berdegup kencang. Sambil ngoceh panjang lebar untuk menutupi rasa panik, Anda lalu membuat gerakan-gerakan erotis sekaligus membelai suami di bagian mana pun yang menurut Anda sensitif.

Saran: Bila Anda memang belum berpengalaman, tak usah melakukan aksi berlebihan seperti ini. Tak usah bereksplorasi terlalu berani, misalnya dengan memakai pakaian atau atribut semacam pecut, borgol, stoking berikut garter belt-nya, atau apa pun yang sering Anda lihat di film. Bagaimanapun, tak semua pria memiliki fantasi semacam itu. Salah-salah, Anda dikira sudah sering beraksi seperti itu di hadapan pria lain. Lebih baik diskusikan sebelumnya dengan suami apa yang ingin Anda lakukan berdua saat itu. Seperti yang dilakukan Asti (28).

''Dulu sih kami mencari tahu apa yang dimaui pasangan, misalnya dengan nonton film porno bareng. Tapi, terkadang tidak semua yang kami lihat pasti dicoba. Kadang kalau gayanya terlalu ekstrem, malam jadi seperti sirkus,'' jelas ibu satu anak yang bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi ini. Ia juga mengaku ajakan untuk melakukan seks yang ekstrem lebih banyak dari suami.

Disadur dari : http://female.kompas.com/read/xml/2010/01/22/1105243/4.kesalahan.saat.malam.pertama


Usia-usia Pernikahan Rentan Masalah


Menurut Tiwin Herman, M.Psi, pernikahan adalah komitmen dari sepasang insan untuk saling menyesuaikan diri secara terus-menerus. Serangkaian konflik yang khas, biasanya, muncul di tahun-tahun tertentu pernikahan. Keterampilan menyelesaikan masalah akan semakin memperkuat hubungan suami-istri. Berikut masa-masa rentan itu dan cara menghadapinya.

Di Bawah 5 Tahun
Tahun-tahun pertama pernikahan merupakan masa yang sangat riskan. Hal ini disebabkan oleh proses penyesuaian diri yang terhambat. Banyak istri atau suami yang mengeluh bahwa sifat dan sikap pasangannya berubah setelah menikah, tidak seperti saat pacaran.

Dalam proses ini, karena usia pernikahan masih baru, toleransi antarpasangan masih sangat tinggi. Jika di masa ini sudah mulai ada maslah yang tidak terselesaikan dan menyebabkan komunikasi berjalan tidak lancar, pasangan suami istri biasanya merasa tidak puas. Masalah-masalah baru pun akan bermunculan bila ketidakpuasan tersebut tidak diungkapkan.

Tahun kedua pernikahan dan selanjutnya peran suami istri berganti menjadi orangtua, seiring lahirnya anak pertama. Dengan peran baru sebagai orangtua, pasangan harus mempelajari banyak hal, termasuk bagaimana menjadi mitra yang baik dalam membesarkan anak.

Cara Menghadapi: Pada masa ini, watak asli pasangan mulai muncul. Meski telah melalui proses pacaran, pernikahan selalu diawali dengan kejutan-kejutan kecil seputar sifat atau kebiasaan pasangan. Setiap pasangan seharusnya saling memahami kondisi ini. Mereka juga dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk saling mengenal lebih dalam lagi, baik secara fisik, emosi, kebiasaan, minat, hobi, dan lain-lain.

Soal cara mendidik anak, latar belakang keluarga yang berbeda, umumnya, berdampak pada pola pengasuhan anak. Diperlukan kebesaran hati untuk bisa memadukan kedua pola asuh yang berbeda atau merumuskan sendiri pola asuh yang pas. Masalah keuangan pun demikian. Karena urusan keuangan sangat sensitif, pembagian peran dalam keuangan keluarga harus jelas sejak awal pernikahan.

Di Atas 20 Tahun
Masa rentan yang dihadapi pada usia pernikahan di atas 20 tahun lebih disebabkan oleh toleransi yang sudah mulai berkurang. Perpisahan pada masa ini, biasanya, karena memang sudah ada masalah pada awal pernikahan namun mereka memilih bertahan dengan berbagai alasan normatif, misalnya: takut mengecewakan keluarga atau dicemooh masyarakat. Namun, alasan yang paling klasik adalah anak-anak. Akhirnya, ketika anak-anak sudah jalan cukup dewasa dan mandiri, jalan perpisahan pun diambil.

Kasus lain yang saat ini juga banyak adalah karena pasangan bermain api dengan orang lain. Hal itu terjadi karena tingkat kejenuhan yang sudah akut. Selama berpuluh-puluh tahun, Anda dan pasangan menjalani hidup berdua tanpa variasi. Di samping itu, usia tua memang biasanya membuat seseorang menjadi lebih sensitif. Sikap sensitif tersebut bisa berwujud rasa terabaikan atau merasa tidak dihargai lagi. Hal ini membuat pasangan menajdi tidak tahan serta frustasi dan memilih untuk berpisah.

Cara Menghadapi: Saat akan memasuki masa ini, ajaklah pasangan untuk berbicara dari hati ke hati. Tanyakan bagaimana perasaan dan gairah cinta mereka. Bila sudah merasa hambar, Anda dan pasangan harus mendiskusikan cara untuk menghidupkan kembali api cinta kalian. Definisikan kembali tujuan pernikahan Anda. Kemukakanlah hal-hal yang paling disukai dan dibenci dari masing-masing pasangan. Kemudian, berintrospeksilah dan perbaiki diri sesuai harapan masing-masing.

Tanyakan juga padanya kekecewaan yang selama ini dirasakannya dan perubahan apa yang paling diinginkannya dari diri Anda. Dengarkanlah tanpa harus bersikap reaktif. Pahami pola pikirnya dan ekspresikan rasa empati Anda. Dengan begitu, pasangan akan bersikap sama dan rumah tangga yang hambar akan kembali hidup.

Bantuan Pihak Ketiga
Meski usia pernikahan saat ini tidak termasuk yang rentan masalah, bukan berarti Anda "bebas" dari masalah. Sudah pasti setiap rumah tangga mempunyai konflik. Yang perlu dicatat, konflik atau masalah itu harus dihadapi. Bila Anda menghindari konflik atau berpura-pura tidak terjadi apa-apa, hal tersebut hanya akan membuat "api dalam sekam". Bila dirasa perlu, Anda boleh menggunakan pihak ketiga, yaitu orangtua, mertua, pemuka agama, atau konsultan pernikahan.

Selain itu, tak ada salahnya bila Anda dan pasangan bertukar pikiran pada orangtua atau pasangan yang berhasil membina rumah tangganya. Tanyakan dan pelajarilah resep pernikahan mereka sehingga dapat bertahan lama.

Disadur dari : http://female.kompas.com/read/xml/2010/01/23/09432140/usia-usia.pernikahan.rentan.masalah

Orgasme Tak Cuma Membakar Kalori



Satu di antara tanda disfungsi seksual pada perempuan adalah kesulitan
mencapai titik orgasme. Padahal orgasme sangat baik untuk tubuh dan kesehatan.

Menurut JAMA (the Journal of the American Medical Association), 43 persen perempuan Amerika menderita disfungsi seksual. Dan mereka cenderung menyalahkan diri sendiri karena tidak mampu orgasme.

Jika Anda punya masalah serupa, hentikan menyalahkan diri sendiri. Temukan solusinya, dan kenali manfaat orgasme untuk membantu Anda mendapatkan titik kepuasan dalam hubungan intim dengan pasangan.

Solusinya
* Sesekali manfaatkan kesendirian Anda untuk mencoba stimulasi dengan masturbasi. Dengan cara ini Anda bisa mencari tahu pada titik mana atau apa yang bisa membuat Anda bergairah.
* Komunikasi dengan pasangan saat sedang bermesraan. Jangan sungkan mengungkapkan apa yang Anda inginkan atau butuhkan dalam hubungan intim.
* Umumnya perempuan terangsang saat klitoris mulai distimulasi oleh pasangan. Jika Anda sudah mulai merasa mencapai titik orgasme, kapanpun itu, bahkan ketika masih dalam tahap stimulasi, katakan saja pada pasangan.

Manfaat orgasme
Meredakan ketegangan saraf
Saat berhubungan seks, denyut jantung berdebar cepat, aliran darah meninggi, otot menegang, yang berujung pada perasaan rileks yang ditandai dengan orgasme. Proses ini mampu meredakan ketegangan dalam sistem saraf.

Membuat tidur lebih nyenyak
Orgasme pada lelaki diikuti dengan penurunan tekanan darah yang cepat, kemudian relaksasi. Sedangkan bagi perempuan, orgasme berdampak setingkat lebih progresif namun tak kalah penting. Orgasme seperti obat penenang. Pelepasan endorfin yang sempurna membuat efek tenang yang luar biasa. Jika sudah begini, masalah tidur bisa terobati bukan?

Mengurangi kebiasaan ngemil
Aktivitas seksual memicu produksi phenetylamine, yakni sejenis amphetamine alami yang mampu mengontrol selera makan. Dengan begitu, kebiasaan makan makanan cepat saji atau bahkan rokok sekalipun bisa berkurang atau bahkan hilang dengan hubungan seksual yang mencapai orgasme.

Membakar kalori
Bukankah urusan membakar kalori dalam rangka diet menjadi urusan nomor wahid banyak perempuan? Hubungan intim dengan mencapai orgasme mampu membakar kalori, sama seperti Anda berolahraga, misalkan dengan beberapa kali putaran renang misalnya.

Bekerja sebagai pengatur rasa sakit yang natural
Pernahkah Anda berada dalam kondisi melupakan penyakit langganan Anda, seperti sakit kepala atau lainnya, saat berhubungan intim? Ternyata hal ini bukan hanya efek psikologis karena Anda sedang bercinta. Endorphin (senyawa alami mirip dengan morphin) dilepaskan dari dalam tubuh saat bercinta. Senyawa ini mampu meningkatkan toleransi tubuh atas rasa sakit hingga mencapai 70 persen selama orgasme. Tentunya hal ini bisa bervariasi pada setiap orang.

Orgasme memang persoalan personal. Apa pun yang membuat Anda merasa bahagia, hidup, luar biasa, dan begitu pun dalam hubungan dengan pasangan, itulah inti dari orgasme yang sebenarnya. Jikapun bisa membakar kalori atau lainnya, bukankah positif untuk tubuh Anda?

Disadur dari : http://female.kompas.com/read/xml/2010/01/23/15265745/orgasme.tak.cuma.membakar.kalori

Impotensi pada Perempuan


Impotensi tak hanya terjadi pada lelaki. Perempuan pun bisa mengalami
disfungsi seksual, yakni ketidakmampuan untuk mendapatkan gairah seksual, menikmati seks, terangsang, dan atau mencapai orgasme.

Penyebabnya bisa beragam, mulai dari perubahan hormonal hingga stres secara emosional. Dengan kata lain penyebabnya bisa berupa gangguan fisik maupun emosi.

Penyebab lain juga terkait dengan menopouse. Pada masa ini kadar estrogen menurun dan banyak perempuan mengalami liang vagina yang kering, dinding vagina dan uretra (saluran kencing) juga mulai menipis.

Kondisi ini menyebabkan rasa sakit saat bersetubuh (intercourse). Banyak juga perempuan yang menderita resiko infeksi saluran urine. Hal ini menimbulkan ketakutan dan kecemasan pada perempuan.

Sebagian besar perempuan hanya bisa mencapai titik orgasme melalui stimulasi klitoris. Kaitannya dengan ini, perempuan cenderung sungkan untuk mengkomunikasikan keinginan ataupun kebutuhan seksualnya kepada pasangan. Faktor ini turut menyebabkan disfungsi seksual perempuan.

Lebih mengkhawatirkan lagi, disfungsi seksual disebabkan karena faktor stimulasi mental. Artinya, perempuan merasa tidak puas dengan pasangannya karena menurunnya libido terhadap pasangan. Secara gamblang, si perempuan merasa pasangannya tidak memiliki daya tarik seksual yang bisa membuatnya bergairah.

Jika sudah pada tahap ini, sebaiknya cermati kembali apakah perempuan pernah mengalami kekerasan fisik, masalah seputar seksualitas yang tak terpecahkan. Latar belakang masalah tersebut membuat perempuan menjadi impoten.

Bagaimana pun, masih ada jalan keluar untuk mengatasi impotensi perempuan. Konsultasikan kepada dokter untuk bisa membantu menganalisa alasan internal dan eksternal sebab terjadinya disfungsi seksual pada perempuan.

Jika faktor penyebabnya adalah menopouse, perawatannya dengan meningkatkan kadar estrogen pada vagina melalui pengobatan tertentu. Konsultasikan juga obat-obatan yang sedang dikonsumsi, karena beberapa obat bisa mempengaruhi kemampuan orgasme, atau bisa menyebabkan disfungsi seksual. Selama penyebab impotensi masih bisa diidentifikasikan, disfungsi seksual perempuan masih bisa disembuhkan. Konseling pasangan menjadi cara lain yang cukup efektif untuk mengatasi masalah ini.

Disadur dari : http://female.kompas.com/read/xml/2010/01/23/1733501/impotensi.pada.perempuan

Masturbasi Juga Dilakukan Perempuan Menikah


Menghabiskan waktu selama delapan jam setiap hari memikirkan dan membicarakan seks? Ini bukan sesuatu yang tidak normal karena memang itulah tugas Debby Herbenick sebagai profesor dan pengajar bidang seks di Kinsey Institute dan Indiana University di Bloomington. Apa hasil penemuannya yang amat mengejutkan? Berapa banyak kesalahpahaman seksual yang ada dalam benak rata-rata perempuan? Inilah empat di antaranya:

Mitos 1: Pria tidak bisa berbuat orgasme palsu. ''Tentu saja mereka bisa dan mereka melakukan hal itu,'' tuturnya. Penelitian dari Kansas University menunjukkan, 25 persen pria mengaku bahwa mereka sering berpura-pura orgasme, bahkan sebagian saat melakukan seks oral. Memang tidak ada pria yang bisa memalsukan cairan sperma hasil ejakulasi. Namun, mereka bisa menirukan desahan dan gerakan-gerakan tubuh mereka saat berhubungan intim. Tapi, ngomong-ngomong, kenapa ya mereka melakukan itu?

Mereka juga seperti kita. Terkadang mereka merasa lelah, tertekan, dan memiliki kesulitan dalam mencapai klimaks. Namun, mereka juga ingin pasangan mereka bahagia dan mendapatkan kepuasan.

Mitos 2: Seks oral 100 persen aman. ''Penyebaran virus HIV lewat seks oral memang jarang. Namun, lewat mulut inilah penyakit kelamin lainnya bisa menulari Anda, seperti penyakit kencing nanah (gonorrhea) dan herpes,'' jelas Herbenick. Penelitian juga membuktikan bahwa perempuan yang sudah melakukan seks oral terhadap lebih dari 6 pria (pasangannya) amat rentan terkena penyakit menular seksual. Mereka juga bisa terkena penyakit kanker mulut yang disebabkan oleh infeksi dari human papilloma virus (HPV, virus yang menyebabkan kanker leher rahim). Adakah cara yang aman untuk melakukannya?

Minta pasangan mengenakan kondom (itu gunanya kondom aneka rasa, bukan?).

Mitos 3: Anda tidak bisa berhubungan seks saat hamil besar. ''Kecuali saat dokter Anda mengatakan kehamilan Anda berisiko,'' kata Herbenick, "Anda tetap bisa melakukan hubungan intim hingga menjelang kelahiran." Faktanya, penelitian membuktikan bahwa seks rutin bisa menurunkan angka risiko kelahiran prematur. Beberapa perempuan bahkan bisa mencapai orgasme saat hamil. Posisi adalah kuncinya. Cara yang aman dan nyaman adalah posisi sendok garpu ataupun perempuan di atas.

Mitos 4: Perempuan hanya bermasturbasi saat masih lajang. Tidak benar! Penelitian terakhir membuktikan bahwa lebih dari 40 persen perempuan yang sudah menikah melakukan masturbasi minimal satu kali dalam sebulan. Dan, ini berita baiknya: perempuan yang suka bermasturbasi lebih puas melakukan hubungan seks dengan pasangan ketimbang yang tidak melakukan.

Disadur dari : http://female.kompas.com/read/xml/2010/01/25/08271942/masturbasi.juga.dilakukan.perempuan.menikah