Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Januari 2010

Bayi Kuning, Normalkah?




Bayi kuning atau istilah medisnya ikterus neonatus biasa terjadi pada bayi baru lahir. Sekitar 60 persen bayi lahir cukup bulan dan 80 persen bayi prematur mengalami ikterus. Meski hal biasa, namun tanpa perawatan yang baik, bayi kuning bisa kejang-kejang, bahkan cacat.

Ikterus neonatus terjadi karena peningkatan kadar bilirubin dalam darah. Bilirubin dalam darah menjadi bermasalah karena fungsi hati pada bayi baru lahir belum "matang" atau belum optimal. Akibatnya, produks bilirubin bebas berlebihan, sementara proses pembuangannya sedikit.

Kematangan fungsi hati berlainan untuk setiap bayi. Biasanya tiga sampai empat hari setelah bayi dilahirkan, hati baru bisa berfungsi normal. Namun, ada juga bayi yang membutuhkan waktu satu sampai dua minggu.

Pada bayi normal, kadar bilirubin umumnya akan meningkat mulai hari ke-2 dan mencapai puncaknya pada hari ke-5 atau ke-7. Selanjutnya, bilirubin akan menurun kembali kadarnya sampai hari ke-10.

Bila ikterus ini bersifat fisiologis, kadar birilubin tersebut akan berkisar antara 5-7 mg, dan tidak melebihi 12 mg. Namun, jika kadar bilirubin ini mencapai 15 mg, perlu dilakukan penanganan khusus. Jika terlambat mendapat perawatan, bayi bisa mengalami kejang, cacat otak, bahkan meninggal dunia.

Untuk memantau warna kuning pada bayi, perhatikan bagian mata bayi. Jika putih matanya berubah kuning, berarti bayi mengarah ke kuning. Kuning menjalar dari sekitar wajah ke seluruh tubuh. Perhatikan pula warna urin bayi, bila warnanya kuning tua atau cokelat, kemungkinan kadar bilirubinnya sudah sangat tinggi. Orangtua harus segera membawa bayi ke rumah sakit bila bayi tidak aktif, sering mengantuk, lemas, demam, dan tidak mau minum.

Jika kadar bilirubin bayi tinggi, maka fototerapi (terapi sinar biru) perlu dilakukan. Karena kadar bilirubin yang tinggi dapat menyebabkan keracunan pada otak bayi, yang akhirnya dapat menyebabkan retardasi mental atau palsi serebral. Bila kadar bilirubin tak terlalu tinggi, pemberian ASI bisa sangat membantu.

Disadur dari : http://kesehatan.kompas.com/read/2009/12/16/10351518/Bayi.Kuning..Normalkah.

Deteksi Kelainan Genetik pada Janin




Ibu hamil seringkali didera rasa khawatir akan kesehatan calon bayinya. Untuk memupus kecemasan itu, kini sudah tersedia pemeriksaan untuk mendeteksi sejak dini apakah bayi yang akan dilahirkan memiliki cacat lahir atau kelainan bawaan.

Pemeriksaan kelainan genetik pada umumnya dilakukan oleh ibu yang sebelumnya pernah melahirkan anak dengan cacat lahir atau memiliki riwayat penyakit genetik pada keluarga mereka, seperti fibrosis, thalasemia dan kelainan sel lainnya. Dengan demikian, bisa diketahui apakah bayi mereka terkena penyakit atau tidak.

Apa saja tes penyakit genetik yang dapat dilakukan oleh para ibu hamil?

Amniocentesis
Ini merupakan sebuah tes untuk mendeteksi kelainan kromosom, yang menyebabkan anak menderita down syndrom atau spina bifida. Amniocentesis biasanya dilakukan saat kehamilan memasuki trimester kedua (antara minggu ke-15 hingga minggu ke-20) atau menjelang kelahiran saat paru-paru bayi sudah terbentuk sempurna.

Pada tes ini dokter akan memasukkan jarum yang sangat kecil ke bagian dinding perut sampai masuk ke bagian rahim untuk mengambil contoh cairan ketuban dari kantong yang menyelimuti janin. Cairan ini kemudian dianalisa di laboratorium untuk mengetahui ada tidaknya kelainan genetik atau kromosom. Hasil tes amniocentesis bisa diketahui dua minggu kemudian.

Chorionic villus sampling
Cara ini lebih akurat untuk mendeteksi ketidaknormalan kromosom, yang salah satunya mengakibatkan down syndrome. Metode tes ini dilakukan dengan dua cara. Pertama adalah dengan menyuntikkan jarum yang sangat pipih dan kecil ke bagian perut ibu hamil untuk mengambil contoh sel dari plasenta yang disebut chorionic villi.

Cara kedua adalah dengan menggunakan kateter yang dimasukkan lewat vagina sampai ke dekat plasenta di rahim untuk mengambil contoh sel. Hasil sampel ini kemudian dianalisa di laboratorium. Chorionic villus sampling (CVS) biasanya dilakukan di awal kehamilan, yakni pada minggu ke-10 atau minggu ke-12. Hasil tes ini juga lebih akurat dan lebih cepat.

Pemeriksaan darah
Belum lama ini para peneliti dari Universitas Hongkong, China, mengenalkan teknik pemeriksaan darah untuk mengidentifikasi sejumlah kelainan penyakit bawaan pada janin. Tes ini bekerja dengan cara memeriksa DNA janin dalam darah ibu.

Setiap metode tes memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Konsultasikan dengan dokter sebelum melakukan tes ini. Beberapa penelitian menyebutkan tes yang dilakukan pada janin bisa menyebabkan keguguran atau peningkatan risiko tidak lengkapnya anggota tubuh yang terbentuk. Oleh sebab itu carilah informasi sebanyak-banyaknya dari dokter Anda!

Disadur dari : http://kesehatan.kompas.com/read/2010/01/06/14330777/Deteksi.Kelainan.Genetik.pada.Janin

Mumi Juga Sakit Jantung


Pola makan ala Barat yang serba instan dan sarat makanan cepat saji ternyata bukan penyebab utama timbulnya penyakit jantung. Buktinya, mumi yang berasal dari 3.500 tahun lalu juga kena serangan jantung.

"Penelitian yang kami lakukan terhadap para mumi menunjukkan gaya hidup modern seperti fast food, merokok, dan kurang olahraga, bukanlah alasan utama terjadinya sumbatan arteri yang menyebabkan penyakit jantung," kata Dr Randall Thomson, kardiolog dari Mid America Heart Institute.

Dalam risetnya, Thomson dan timnya menggunakan pemeriksaan CT-scan pada 22 mumi yang disimpan dalam Egyptian National Museum of Antiquities di Kairo, Mesir. Mumi-mumi tersebut berasal dari tahun 1981 sebelum Masehi hingga 334 sesudah Masehi. Separuh dari mumi berusia lebih dari 45 tahun saat meninggal dan rata-rata memiliki usia kurang dari 50 tahun.

CT-scan adalah alat kedokteran yang bisa secara tepat mendeteksi penyebab penyakit atau bentuk kelainan pada tubuh manusia. Biasanya pemeriksaan ini dilakukan untuk melengkapi pemeriksaan sonografi.

Hasil pemeriksaan menunjukkan 16 mumi mengalami gangguan jaringan pembuluh darah dan jantung. Sembilan mumi ditemukan mengalami pengerasan arteri. "Kami terkejut karena kondisi pengerasan vaskular mumi ini juga ditemukan pada pasien di era modern ini. Mungkin ateroklerosis merupakan bagian dari manusia," kata peneliti lain Dr Michael Miyamoto dari Universitas California, San Diego, AS.

Satu mumi diketahui terkena karena serangan jantung, tetapi para peneliti belum bisa memastikan apakah serangan itu fatal. Selain itu, para ahli juga tak bisa mengira berapa berat badan para mumi semasa hidup. Satu hal yang pasti, para mumi ini berasal dari status sosial tinggi yang bergelar raja (pharaoh) atau menjadi pendeta.

"Orang kaya umumnya selalu makan daging dan mereka pada masa itu menyukai daging asin. Jadi, mungkin saja mereka punya penyakit darah tinggi. Tapi ini hanya spekulasi kami," kata Thomson. Hasil penelitian ini akan dipublikasikan dalam jurnal American Medical Association.

Mumi tertua yang diketahui juga memiliki penyakit jantung adalah Lady Rai, pengasuh anak dari Queen Ahmose Nefertari, yang meninggal sekitar tahun 1530 sebelum Masehi atau 200 tahun sebelum Firaun Tutankhamun.

Disadur dari : http://kesehatan.kompas.com/read/2009/11/18/11074841/Mumi.Juga.Sakit.Jantung

Yoga, Senam yang Ramah untuk Segala Usia




pastilah bukan kata asing bagi telinga kita. Tapi, apa sejatinya yoga itu? Yoga adalah sistem kesehatan menyeluruh (holistik) yang terbentuk dari kebudayaan India kuno sejak 3000 SM lalu. Yoga atau yuj dalam bahasa sansekerta kuno berarti union (penyatuan). Penyatuan antara atman dan brahman (yang maha kuasa). Intinya, dengan yoga seseorang dapat mengenal lebih baik tubuhnya, sekaligus Tuhannya.

Terdapat sembilan bentuk aliran yoga yang disesuaikan dengan kebutuhan khusus para siswa yoga, yaitu: Jnana yoga, karma yoga, bhakti yoga, yantra yoga, tantra yoga, mantra yoga, kundailini yoga, hatha yoga, dan raja yoga.

Aliran yang banyak dipakai sekarang ini adalah hatha yoga atawa penyatuan melalui penguasaan tubuh dan napas.

Hatha adalah gabungan dua kata yaitu ha dan tha yang artinya adalah matahari dan bukan. Hatha yoga fokus pada teknik asana (postur), pranayama (olah napas), bandha (kuncian), mudra (gestur), serta relaksasi yang mendalam.

Tujuan hatha ini adalah menjaga keseimbangan alarm tubuh dengan mempraktikkan kelima prinsip yoga. Prinsip-prinsip tersebut adalah berlatih dengan teratur, bernapas dalam, pola makan yang seimbang, beristirahat cukup, berpikir positif, dan meditasi.

Gerakan yoga sangat banyak variasinya, mulai dari yang sederhana, hingga yang sangat rumit. Menurut Pujiastuti Sindhu, Pimpinan Yoga Leaf di Bandung, ada 840.000 asana dalam yoga. Jadi, semua orang, dari anak-anak hingga manula dan perempuan hamil, bisa melakukan yoga.

Karena itu, perempuan yang sehari-hari disapa Uji tersebut menyarankan agar pelaku yoga tidak terlalu memaksakan suatu gerakan yoga. "Semua sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan," tutur dia.

Uji pun menganjurkan agar siapapun yang melakukan yoga, melakukan asana dengan prinsip sweet discomfort atau batas antara nyaman dan tidak nyaman. "Jika merasa tegangan tubuh meningkat, artinya Anda terlalu memaksa tubuh. Tubuh akan memberi sinyal untuk meregang lebih jauh saat ia telah siap," tutur Uji.

Untuk pemula, diperlukan seorang yogi atau guru yoga sebagai pemandu. Yogi akan memandu para pemula, memberi pengetahuan tentang gaya hidup sehat, serta mampu memberi bimbingan ketika bermeditasi. Manfaat berlatih yoga adalah meningkatkan fungsi kerja kelenjar endokrin di dalam tubuh, meningkatkan sirkulasi darah ke seluruh sel tubuh dan otak, serta membentuk postur tubuh yang lebih tegap.

Tak cuma itu, yoga membuat otot lebih lentur dan kuat, meningkatkan kapasitas paru-paru saat bernapas, dan membuang racun dari dalam tubuh.

Yoga juga memperlambat penuaan, memurnikan saraf pusat yang terdapat di tulang punggung, mengurangi ketegangan tubuh, pikiran dan mental, serta lebih kuat saat menghadapi stres.

Disadur dari : http://kesehatan.kompas.com/read/2008/09/24/1145152/Yoga..Senam.yang.Ramah.untuk.Segala.Usia

Yoga Tingkatkan Kualitas Hidup Penderita Kanker


dapat memperbaiki kondisi emosi seseorang penderita kanker payudara. Demikian sebuah penelitian mengungkapkan.

"Banyak wanita yang mengalami stres saat mengetahui dirinya terserang kanker payudara. Rasa damai, tenang dalam menghadapi persoalan ini sangat bermanfaat bagi meningkatnya kesehatan," ujar Suzanne Danhauer, dari Wake Forest University School of Medicine dalam sebuah rilis berita Universitas.

Penelitian ini melibatkan 44 wanita penderita kanker payudara. Sepertiga dari mereka menjalani sedang perawatan dan yang lainya sudah selesai. Separuh ikut program yoga dan separuhnya sedang dalam daftar tunggu.

Para wanita peserta kelas yoga ini menjalani 75 menit yoga restoratif. HAsilnya, 50 persen dari mereka mengalami penurunan tingkat depresi dan 12 persen merasa tenang dan berarti. Peserta yoga ini juga merasa tidak mudah lelah.

Hasil penelitian, yang dikatakan Danhauer "sungguh menjanjikan dan perlu dilanjutkan dalam penelitian skala besar," dipublikasikan pada 24 Februari lalu di jurnal Psycho-Oncology (onkologi = hal berkaitan dengan kanker).

"Bukti yang tampak dari review sistematis atas penelitian acak ini sangat kuat menyatakan bahwa terapi atas tubuh dan pikiran mempengaruhi mud, kualitas hidup dan perawatan pada mereka yang menderita kanker," ujar Danhauer. "Yoga adalah salah satu terapi tubuh dan pikiran yang digunakan secara luas dan relatif menghasilkan sesuatu yang masuk akal."

Disadur dari : http://kesehatan.kompas.com/read/2009/02/27/23213013/Yoga.Tingkatkan.Kualitas.Hidup.Penderita.Kanker

Diet Berlebihan, Kesehatan Jadi Korban


Diet macam apa yang Anda jalani? Tidak makan apa pun kecuali sayur dan buah-buahan? Diet tinggi protein, atau diet dengan resep rahasia yang katanya pasti sukses? Ketahuilah bahwa diet yang dilakukan tanpa perhitungan adalah sia-sia. Sudah tubuh gagal langsing, juga bisa membahayakan kesehatan.

Diet ketat pada umumnya memiliki strategi pemangkasan kalori dengan berpantang pada sejumlah makanan, terutama karbohidrat, lemak, dan gula. Pada awalnya mungkin Anda berhasil menurunkan beberapa kilogram berat badan, namun pada akhirnya Anda akan menjadi begitu lapar sehingga meninggalkan pola diet itu disertai balas dendam untuk bisa menikmati makanan yang dulu dianggap musuh.

Akibatnya adalah fenomena yo-yo diet, yakni Anda akan kembali ke berat tubuh semula, bahkan lebih. Kalau sudah begini, akan menjadi mubazir semua pantangan makanan yang sudah berbulan-bulan dijalankan.

Penelitian yang dilakukan oleh Kelly Brownell, Ph.D, psikolog dan peneliti masalah obesitas di Yale University, Amerika Serikat, menemukan bahwa diet yang berulang-ulang dapat menyebabkan orang terkena penyakit jantung.

Dalam penelitian tersebut diketahui orang dengan berat badan naik turun mempunyai risiko meninggal karena penyakit jantung 75 persen lebih besar daripada orang yang berat badannya relatif stabil. "Naik turun berat badan di sini adalah yang cukup besar, bukan hanya dua tiga kilogram," katanya.

Diet yang tidak konsisten juga bisa menyebabkan tekanan darah tinggi serta redistribusi lemak ke bagian-bagian tubuh yang mudah rusak, misalnya dari pantat ke perut. Para ahli telah mengingatkan orang dengan lemak perut berlebihan lebih mudah terkena penyakit jantung.

Ingat, diet berlebihan tidak ada gunanya. Yang ada gunanya adalah pengurangan berat badan secara perlahan-lahan dan bertahap melalui perubahan gaya hidup, seperti pola makan gizi seimbang rendah kalori namun tetap harus mengonsumsi nutrisi lengkap yang mengandung protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Jangan lupa untuk mengimbanginya dengan latihan fisik.

Disadur dari : http://kesehatan.kompas.com/read/2010/01/16/10250719/Diet.Berlebihan..Kesehatan.Jadi.Korban

Yoga yang Meningkatkan Gairah Seksual

Shutter Stock

KOMPAS.com - Bagi Ellen Barret, penulis buku Sexy Yoga, gerakan-gerakan yoga tidak hanya mampu melepaskan tubuh kita dari stres. Sebab gerakan-gerakan yoga menjaga fleksibilitas tubuh kita yang kemudian memperlancar aliran darah ke seluruh tubuh. Aliran darah inilah yang kita butuhkan untuk "menghangatkan" hubungan seksual dengan pasangan.

Journal of Sexual Medicine memperkuat pernyataan Barret. Dalam jurnal ini disebutkan, perempuan membutuhkan mood yang terjaga agar hubungan seksual tidak terasa membosankan. Dan yoga menyempurnakan keseimbangan emosi dengan kelenturan tubuh. Terdengar menggiurkan, bukan? Cobalah gerakan-gerakan berikut ini.

Cat/Cow Stretch
Dengan posisi berlutut, letakkan kedua tangan di depan dengkul, dan kepala menghadap lurus ke depan. Seraya menarik napas, perlahan turunkan pinggul ke bawah (cow) hingga dada terdorong ke depan. Saat melakukan gerakan ini, pastikan tulang ekor mengarah ke atas. Sambil mengembuskan napas, angkat punggung ke atas (cat) dan perlahan-lahan biarkan perut berkontraksi. Pastikan saat gerakan ini, kepala menghadap ke bawah. Lalu kembali ke posisi awal.

Lakukan gerakan ini sebanyak 6 kali. Gerakan ini bermanfaat untuk menguatkan otot-otot kegel kita. Barrett menjelaskan, otot-otot kegel adalah otot yang berkontraksi saat kita orgasme.

Cobra
Rebahkan tubuh menghadap lantai, biarkan kedua kaki lurus dan perut menyentuh lantai. Luruskan kedua tangan sehingga kuat menyangga tubuh bagian atas kita. Angkat perlahan tubuh bagian atas sambil meluruskan ujung kaki hingga menyentuh lantai. Lalu turunkan tubuh ke bawah hingga siku kita menekuk, turunkan sejauh yang kita mampu. Tahan sampai 20 detik. Angkat punggung ke atas secara perlahan. Jadikan kedua tangan sebagai penyangga tubuh bagian atas, dan ujung kaki sebagai tumpuan tubuh bagian bawah. Tahan 20 detik, dan ulangi gerakan sebanyak 6 kali.

Gerakan ini bermanfaat karena menurut Barret ini adalah cara untuk mengeluarkan cakra hati kita yang mendukung saat hubungan intim dilakukan.

Downward-facing dog
Awali dengan posisi telungkup di atas matras, dan letakkan pergelangan tangan 6-12 inci di depan bahu kita. Lutut terpisah selebar pinggul dan jari-jari kaki meringkuk di bawah. Lalu angkat lutut ke atas serta dorong tulang ke ekor ke atas, hingga tubuh membentuk huruf V terbalik. Secara perlahan gerakkan dada ke arah paha sampai telinga, atau jika kita mampu sampai lengan atas dan pastikan kepala kita tidak menjuntai. Jaga juga agar pinggul terangkat dan mendorong kuat ke dalam tangan.

Gerakan ini bermanfaat sebab merupakan gerakan untuk menenangkan emosi. “Ini adalah gerakan pra seksual yang tepat, sebab secara perlahan menghangatkan tubuh,” ujar Barrett.

Tree
Dengan posisi berdiri, biarkan kaki terbuka sejajar dengan panggul dan letakkan kedua tangan di samping tubuh. Angkat kaki kanan dan pindahkan berat badan ke seluruh kaki kiri. Tekuk kaki kanan dan dengan bantuan tangan kanan, letakkan kaki kanan di paha dalam kaki kiri, di atas lutut. Tapi jika kita kesulitan menjaga keseimbangan dengan posisi ini, letakkan kaki kanan di bawah lutut kaki kiri. Lalu satukan kedua tangan di depan dada seperti posisi berdoa. Tahan beberapa saat, lalu kembalikan kedua tangan di posisi kita berdiri. Ulangi untuk kaki kiri.

Ulangi gerakan tree dari awal, hanya saja kali ini angkat kedua tangan ke atas kepala dengan kedua tangan yang terbuka sejajar pundak. Gambarkan tangan sebagai ranting-ranting pohon yang kuat dan stabil, tahan beberapa saat, lalu ulangi untuk tubuh bagian kanan.

Bagi Barrett, gerakan ini bermanfaat karena melatih kita untuk fokus yang membantu agar emosi tetap stabil. Emosi yang terjaga tetap baik akan menambah kualitas hubungan seksual kita.

(Siagian Priska/Prevention Indonesia)

Disadur dari : http://kesehatan.kompas.com/read/2010/01/18/19454460/Yoga.yang.Meningkatkan.Gairah.Seksual

Ngerinya Terbangun Saat Dioperasi

Dokter anestesi berdiri di samping tempat tidur Anda dan tersenyum. Anda mengambil napas dalam dan mulai merasakan jatuh ke dalam tidur yang dalam. Bila segala sesuatu berjalan sesuai dengan rencana, Anda akan terbangun di kamar perawatan dikelilingi keluarga. Sayangnya, tak semua hal berjalan sesuai dengan rencana.

Bisa jadi Anda akan terbangun sambil merasakan sakit. Anda mendengar suara alat-alat aluminium yang dimasukkan ke bagian tubuh Anda. Mulut berteriak, tapi tak ada suara yang keluar. Bahkan, Anda tak bisa menggerakkan satu anggota tubuh pun.

Siuman meski di bawah pengaruh anestesi mungkin terdengar seperti film horor, tapi ini adalah sebuah kenyataan. Secara umum, kondisi ini dialami satu dari 1.000 kasus operasi.

Pada prosedur bedah dengan risiko tinggi, seperti operasi bedah jantung, persalinan caesar, dan operasi trauma, risiko sadar di meja operasi meningkat menjadi satu dari 100 kasus. Hal ini diungkapkan Profesor Paul Myles, Direktur Departemen Anestesi dan Perioperative Medicine dari Alfred Hospital dan Monash University, Australia.

Bukan hanya menjadi sebuah mimpi buruk, kesadaran yang mulai pulih saat Anda masih menjalani operasi bisa membuat pasien mengalami stres dan trauma. Terkadang hal ini akan terus menghantui hidup pasien. "Lebih dari 25-40 persen pasien dalam kasus ini mengalaminya," kata Myles.

Mengapa terjadi
Pulihnya kesadaran pada pasien operasi terjadi ketika otak belum sepenuhnya terbius, sementara otot-otot sudah menjadi lemas sehingga otak tidak bisa memerintahkan anggota tubuh untuk bergerak.

Karena pasien tidak bisa bergerak, tidak ada cara untuk membuat dokter anestesi mengetahui bahwa Anda sudah sadar dan merasakan sakit. Bila ia menyadari situasinya, dokter akan segera menambahkan dosis obat bius hingga Anda benar-benar tersadar.

Hal yang paling menakutkan untuk pasien adalah perasaan terkucil dan putus asa karena tak bisa berbuat apa-apa. "Kebanyakan pasien bisa mendengar suara dan percakapan di ruang operasi," papar Myles. Meski sebagian pasien mengaku merasakan sakit, tidak ada pasien yang melaporkan mampu mencium bau.

Menurut laporan penelitian yang dimuat dalam jurnal kesehatan The Lancet, terdapat tanda-tanda klinis yang biasa dipakai dokter anestesi untuk memonitor kesadaran pasien, antara lain tekanan darah dan detak jantung. Namun, sebagian besar metode ini kurang bisa diandalkan.

Para peneliti menyarankan digunakannya alat monitor gelombang otak, yakni electroencephalogram (EEG), yang lebih akurat. Dalam penelitian yang dilakukan terhadap 2.463 pasien yang secara acak diberikan alat monitoring ini, diketahui risiko pulihnya kesadaran pasien operasi bisa ditekan hingga 82 persen.

Alat EEG ini akan memberikan analisis kondisi pasien yang disebut dengan BIS. Nilai BIS bervariasi antara 0 (total tidak sadar) dan 100 (sadar). Nilai BIS 40-60 dikategorikan sebagai peringatan untuk dokter anestesi untuk menambahkan dosis obat bius.

Sayangnya, tidak semua ahli anestesi merasa perlu menggunakan alat EEG karena menganggap sangat sedikit kasus tersadar di meja operasi. Menurut Myles, hal ini terjadi karena sepertiga dari pasien memilih untuk tidak menceritakan pengalamannya kepada dokter karena takut tidak dipercaya.

Disadur dari : http://kesehatan.kompas.com/read/2010/01/27/08215514/Ngerinya.Terbangun.Saat.Dioperasi

Informasi Akurat Kanker Serviks Belum Meluas


Jumlah kasus kanker serviks atau leher rahim di Indonesia masih tinggi. Setiap hari diperkirakan muncul 40-45 kasus baru dan sekitar 20-25 perempuan meninggal setiap harinya karena kanker leher rahim. Terbatasnya akses informasi yang akurat diyakini menjadi salah satu penyebab tingginya kasus kanker leher rahim di Indonesia.

Demikian dikemukakan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari dalam acara Peringatan 1 Tahun Perempuan Peduli Kanker, Serviks Perangi Kanker Serviks , Senin (25/1/2010), di Jakarta. Perempuan harus lebih waspada dan melindungi diri sendiri dengan mencari informasi yang akurat tentang penyakit, deteksi, dan pencegahannya, kata Linda.

Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Adiati Arifin M Siregar menambahkan, kasus kanker leher rahim tinggi karena minimnya kesadaran untuk melakukan deteksi dini. Akibatnya, sebagian besar kasus yang ditemukan sudah masuk pada stadium lanjut dan menyebabkan kematian karena kanker leher rahim tidak menunjukkan gejala.

"Setiap perempuan berisiko terkena kanker leher rahim tanpa melihat kondisi sosial, ekonomi dan status, usia, dan gaya hidup," ujarnya.

Kanker leher rahim merupakan jenis kanker terbanyak yang diderita perempuan Indonesia. Di Asia Pasifik, setiap tahun ditemukan sekitar 266.000 kasus kanker leher rahim, 143 .000 di antaranya meninggal dunia di usia produktif. Di seluruh dunia, setiap tahunnya terdapat kurang lebih 400.000 kasus baru kanker leher rahim, 80 persen di antaranya terjadi pada perempuan yang hidup di negara berkembang.

Meski penyebab utamanya virus yang bernama Human Papilloma Virus (HPV), kanker leher rahim berkaitan erat dengan gaya hidup. Penyimpangan pola kehidupan seksual, berhubungan seks pada usia muda, dan memiliki kebiasaan merokok juga merupakan faktor pencetus timbulnya kanker leher rahim.

Perempuan dewasa dan remaja putri baik yang sudah atau belum aktif secara seksual perlu diberikan informasi mengenai pencegahan kanker leher rahim. Salah satu cara pencegahan bisa dilakukan dengan pap smear secara rutin bagi yang telah berkeluarga dan imu nisasi HPV terutama bagi yang belum seksual aktif.

Rendahnya cakupan pap smear untuk mendeteksi penyakit ini secara dini menyebabkan angka insiden kanker leher rahim belum dapat diturunkan. "Perlu dipikirkan bagaimana pelayanan pap smear dan imunisasi HPV bisa terjangkau oleh perempuan di pedesaan hingga perkotaan," kata Linda.

Vaksin mahal
Terjangkau dalam hal ini terkait dengan masalah biaya. Sebagai gambaran, biaya pengobatan dan terapi pra-kanker/kanker leher rahim (meliputi pembedahan/pengangkatan rahim, radioterapi, kemoterapi, kolposkopi, dan biopsi) membutuhkan biaya sekitar Rp 60 juta. Kanker leher rahim dapat dideteksi dini dengan pap smear atau IVA (inspeksi visual dengan asam asetat) secara teratur dengan biaya sekitar Rp 50 ribu hingga Rp 200 ribu.

Selain itu, kanker leher rahim juga dapat dicegah dengan vaksin yang relatif mahal dengan perkiraan harga jual di pasaran hingga Rp 700 ribu. Ketua II Bidang Pelayanan Sosial YKI dr Melissa Luwia mengatakan meski relatif mahal vaksinasi itu adalah c ara yang terbaik dan perlindungan paling aman bagi perempuan dari HPV tipe 16 dan 18.

Memang mahal. Vaksin ini sifatnya individual dan tidak bisa dibuat murah apalagi cuma-cuma. Paling-paling bisa minta harga khusus saja biar lebih murah sedikit. "Kalau di luar negeri seperti di Eropa, negara yang mengeluarkan uang untuk vaksinasi itu. Tetapi di Indonesia kan tidak bisa seperti itu. Siapa yang akan mengeluarkan uang untuk itu," tanya Melissa.

Disadur dari : http://kesehatan.kompas.com/read/2010/01/25/12525540/Informasi.Akurat.Kanker.Serviks.Belum.Meluas.

"Burung" Si Buyung Kecil? Jangan Bingung!


Siapa tahu memang karena tubuhnya montok hingga penisnya tertutup lemak. Kalaupun terbilang kecil, toh bisa diterapi sejak dini.

Bu, Pak, sebagai orangtua, kita "hobi" banget kan membanding-bandingkan si kecil dengan bayi lain. Termasuk masalah alat vitalnya dan kemudian panik sendiri ketika melihat, "Kok anaknya si Mira penisnya lebih besar. Padahal, umurnya sama dengan anakku."

Kekhawatiran semacam itulah, tutur dr Jose RL Batubara, SpA dari Bagian Endokrinologi Anak RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta, yang umumnya dikeluhkan orangtua saat datang berkonsultasi ke dokter.

Besar kecil
Penis, jelas Jose, disebut kecil alias mikropenis bila ukurannya kurang dari dua standar deviasi rata-rata. Artinya, ukuran panjang penis si bayi berselisih 2 cm dibandingkan bayi lahir normal yang biasanya memiliki penis berukuran sekitar 3,5 cm.

"Nah, kalau panjang penisnya cuma 1 cm, baru bisa dikategorikan mikropenis. Kasus seperti ini yang sebetulnya perlu dikonsultasikan kepada dokter guna dicarikan penyebab sekaligus penanganan selanjutnya."

Sementara itu, ada pula kategori penis kecil yang sebenarnya tak perlu dipusingkan, yakni small penis atau bila ukurannya kurang dari satu standar deviasi rata-rata. "Jika saat lahir ukuran penisnya sekitar 2,5 cm, tak usah kelewat dicemaskan."

Penis itu sendiri, terang DR dr Akmal Taher, spesialis urologi RSUPN Cipto Mangunkusumo, merupakan organ seks sekunder yang pertumbuhannya dipengaruhi oleh faktor hormon, yakni hormon testosteron. "Dengan begitu, bila ada gangguan hormonal karena faktor bawaan, misalnya, pertumbuhan penis akan terganggu pula. Gangguan hormonal inilah yang diduga menjadi penyebab keterlambatan pertumbuhan penis, makanya muncul kasus penis kecil," ujar Akmal.

Meski, seperti diutarakan Jose pada kesempatan terpisah, besar-kecil ukuran penis amat relatif sifatnya. "Bisa saja seorang bayi sebetulnya tidak berpenis kecil, tapi jadi terlihat 'tenggelam' karena badannya montok sehingga pangkal penisnya tertutup lemak." Hal senada dikatakan Akmal. "Pada bayi gemuk, umumnya penis terlihat jadi kecil. Sedangkan kalau bayinya kurus dan bertubuh kecil, kemungkinan penisnya memang kecil."

Nah, untuk memastikan apakah "burung" si buyung termasuk mikropenis atau bukan, harus dibawa ke dokter, tepatnya dokter yang mendalami endokrinologi anak mengingat "gangguan" ini terkait dengan masalah hormonal.

Penyebab mikropenis pun beragam. "Bisa karena perkembangan organ yang tidak optimal, juga akibat adanya sindrom-sindrom tertentu. Bisa juga idiopatik, yakni bila penyebabnya tidak diketahui dengan jelas."

Tak tergantung ukuran

Di Indonesia, lanjut Jose, sebetulnya sudah ada penelitian di beberapa kota besar mengenai ukuran rata-rata penis pada anak sesuai dengan tahapan usia. Hasilnya, ternyata ukuran penis rata-rata sampai anak usia 5 tahun tidak berbeda dengan ukuran standar yang "dianut" luar negeri.

Bicara soal ukuran, "Kalau perbedaannya tidak ekstrem/mencolok, tidak bahaya kok. Toh itu hanya soal ukuran. Tapi, kalau kelewat mencolok, bisa berdampak psikologis lho! Misalnya, ketika pipis bersama-sama dengan temannya, anak akan minder/malu. Terlebih bila penis yang kecil tadi terlihat dan kemudian dijadikan bahan olok-olok oleh temannya."

Orangtua pun sebenarnya tak perlu kelewat mengkhawatirkan fungsi seksual penis si kecil saat dewasa kelak. Soalnya, jelas Akmal, pertumbuhan penis akan bertambah secara proporsional sesuai dengan usianya, terutama pada usia puber, di mana aktivitas bertambah dan postur tubuh berubah secara cepat. "Lagi pula, fungsi seksual penis pun tak melulu ditentukan oleh besar-kecilnya. Artinya, maksimal-tidaknya fungsi seksual seseorang sama sekali tidak ditentukan oleh ukuran besar-kecil atau panjang-pendeknya penis."

Malah, "Tak sedikit lho yang penisnya kecil, tetapi kemampuan ereksinya tak jadi masalah. Jadi, mesti digarisbawahi bahwa kepuasan seksual tidak semata-mata ditentukan oleh ukuran besar-kecilnya penis."

Sebelum akil balig

Kendati begitu, saran Jose, jika penis bayi memang betul-betul kecil, jelas perlu ditangani segera. Bahkan, sesaat setelah lahir pun bisa langsung diobati. Jose pun mengingatkan agar kita tak terkecoh oleh anggapan/mitos di masyarakat bahwa penis akan membesar dengan sendirinya setelah disunat. "Sunat kan sebetulnya cuma 'membuka' dan 'mendorong' kulit yang menutup ujung penis agar mudah dibersihkan dan tak menjadi sarang kotoran."

Yang jelas, mikropenis hanya bisa ditanggulangi sebelum memasuki masa akil balig atau maksimal saat anak berusia 12 tahun. Lewat dari itu, tidak akan menunjukkan hasil maksimal. "Bahkan, boleh dibilang tidak ada gunanya. Soalnya, kadar hormon testosteronnya sudah tinggi seperti halnya orang dewasa sehingga tidak bisa diberi tambahan lagi."

Pengobatan mikropenis, ujar Jose, 10 tahun lalu masih dengan cara mengoleskan krim hormon ke penis, tapi hasilnya kurang optimal. "Kini yang diterapkan berupa terapi hormonal secara berkala, yaitu dengan menyuntikkan hormon testosteron di pangkal paha atau di bokong. Biasanya dilakukan maksimal 4 kali dengan selang waktu masing-masing suntikan 3 minggu. Umumnya, tak sampai 4 kali pun sudah berespons dengan baik sehingga terapinya bisa dihentikan."

Yang juga menggembirakan, hampir semua bayi pada kasus mikropenis ternyata menunjukkan hasil yang memuaskan. Dalam arti, mikropenisnya tidak ada yang bersifat menetap. Jadi, tak perlulah kita terjebak pada bentuk-bentuk pengobatan alternatif yang katanya bisa membuat ukuran jadi normal. "Pijatan tak akan memberikan manfaat/efek apa pun

Disadur dari : http://kesehatan.kompas.com/read/2010/01/26/11291982/.quot.Burung.quot..Si.Buyung.Kecil.Jangan.Bingung.

Inilah Titik Sensitif Wanita (Bagian I)


Pria macho adalah pria yang dapat menyenangkan dan memuaskan pasangannya dalam banyak hal, salah satunya dalam hal seksual. Begitulah pendapat salah satu konsultan seks, David Darma. Untuk itu, pengetahuan tentang titik-titik sensitif pada wanita menjadi hal penting.

Berikut ini titik-titik penting yang harus dipahami para pria macho.
Rambut
Elusan rambut dan pijatan kepala ternyata dapat merangsang terlepasnya endorfin yang mengakibatkan rasa nikmat pada seseorang.
Mata
Sama seperti skortum (kantong buah pelir), kulit kelopak mata menghasilkan sensasi yang hampir sama bila disentuh dengan lembut.
Hidung
Ada hubungan sensoris langsung antara hidung dan pusat kenikmatan di dalam otak.
Bibir
Menurut ajaran Tantra, ada saraf yang menghubungkan bibir atas langsung dengan klitoris.
Telinga
Riset menunjukkan, 5 persen dari laki-laki dapat mencapai klimaks melalui stimulus aural saja, entah itu percakapan erotis, napas berat, atau lidah yang memainkan telinga.
Leher
Bagian ini memiliki saraf yang sensitif. Kebanyakan wanita merasakan kesan yang sama, geli dan terangsang bila dicumbu di leher.
Buah dada dan puting
Entah dengan diisap, dijilat, diusap, atau diremas lembut, bagian tubuh ini membantu meningkatkan gairah seksual.
Jari-jari tangan
Telapak tangan sangat sensitif karena mampu merasakan sensasi sampai 1/8.000 kg/cm.
Perut
Area antara pusar dan tulang pubik penuh dengan titik-titik kenikmatan. Mengaktifkan titik-titik ini merangsang mengalirnya darah ke seluruh daerah pubik.
Vulva
Bagian depan bantalan empuk jaringan mons veneris yang terletak sekitar 5 cm di atas klitoris penuh ujung saraf. Menyentuh bagian ini dengan jari tangan dapat membangkitkan sensasi dan meningkatkan orgasme.

Disadur dari : http://kesehatan.kompas.com/read/2010/01/27/07222396/Inilah.Titik.Sensitif.Wanita.Bagian.I

Jaga Tensi agar Tak Cepat Pikun


Menurunnya kemampuan kognitif pada kelompok lanjut usia (lansia) sering dianggap sebagai hal biasa. Padahal, menurunnya kemampuan kognitif yang ditandai oleh banyak lupa merupakan suatu gejala awal kepikunan atau demensia.

Demensia adalah suatu kemunduran intelektual berat dan progresif yang mengganggu fungsi sosial, pekerjaan, dan aktivitas harian seseorang. Hipotesis terbaru menyatakan, kepikunan memiliki keterkaitan dengan tekanan darah tinggi (lebih dari 140/90) pada lansia.

Penelitian yang digelar para peneliti dari National Institute of Neurological Disorder and Stroke, Amerika Serikat, dengan cara melakukan pemindaian otak penderita hipertensi menemukan terbentuknya parut di otak yang di kemudian hari akan menimbulkan penyakit demensia dan alzheimer.

Luka parut tersebut bisa terbentuk sejak usia paruh baya, bertahun-tahun sebelum terjadinya gangguan daya ingat pada lansia. "Cara pencegahan penurunan kemampuan kognitif pada lansia yang paling utama adalah mengontrol tekanan darah," kata Dr Walter Koroshet, Deputi Direktur National Institutes of Health, AS.

Usia adalah faktor terbesar munculnya penyakit demensia dan alzheimer. Para ilmuwan sejak lama telah memerhatikan bahwa faktor risiko penyakit jantung (hipertensi, obesitas, diabetes) menjadi penyebab munculnya penyakit demensia. Namun, mereka masih belum menemukan kaitan langsung.

Kini para peneliti menemukan bahwa kebanyakan pasien demensia memiliki satu atau dua faktor risiko. Dan, faktor hipertensi yang akan melemahkan arteri diyakini mempercepat proses penyakit alzheimer.

Hipotesis para peneliti adalah peningkatan tekanan darah tinggi akan merusak pembuluh darah kecil yang memberikan makan sumsum otak (white matter) dan menggangu sinyal. Padahal, sumsum otak berfungsi seperti jaringan telepon pada sistem saraf sehingga setiap sel otak mampu berkomunikasi satu sama lain. Bila sambungan ini terganggu, tentu saja akan terjadi "tulalit" alias pikun.

Disadur dari : http://kesehatan.kompas.com/read/2010/01/27/08061919/Jaga.Tensi.agar.Tak.Cepat.Pikun

Bayi Selalu Lemas, Awas "Celebral Palsy"!


Celebral palsy (CP) merupakan gangguan sistem motorik akibat adanya kerusakan di otak. Kondisi ini bisa terjadi sejak janin dalam kandungan, maupun saat bayi sudah lahir. Tidak mudah mendiagnosis CP secara tepat sejak dini. Sebab itu, orangtua harus selalu mengamati perkembangan anak.

Bila dikenali adanya kelainan, sebaiknya orangtua segera memeriksakannya ke dokter. “Tandanya bisa berupa bayi lemas, bentuk kaki seperti busur, tidak bisa menegakkan kepala setelah berusia beberapa bulan, dan lainnya,” kata Dr. Hermawan Suryadi, Sp.S, dokter ahli saraf dari Klinik Neuropsikiatri dan Revitalisasi Jakarta ini.

Hingga saat ini penyebab pasti CP belum bisa diketahui. Namun, beberapa hal dapat menjadi faktor risiko bagi terjadinya CP. Kelainan pembentukan saraf kepala janin, janin yang terinfeksi, minum obat sembarangan saat hamil, misalnya.

Proses kelahiran yang tidak sempurna, contohnya bayi kekurangan oksigen, divakum, lalu bayi yang lahir dengan berat badan rendah, dan bayi dengan bilirubin tinggi (bayi kuning), juga dapat menyebabkan timbulnya CP. Meski begitu, tambahnya, banyak kasus bayi kuning yang tidak berhubungan dengan masalah CP.

CP dapat dideteksi sejak masa-masa awal tumbuh-kembang bayi, misalnya dengan mengamati gejala atau fungsi refleksnya. Normalnya, bayi berusia 3-4 bulan akan meraih mainannya, di usia 5 bulan tangannya akan menyambut ke atas bila akan diangkat, usia 6-7 bulan sudah mampu duduk, dan usia 10-14 bulan biasanya mulai bisa berjalan. Bayi dengan kelainan CP tidak memiliki fungsi refleks itu.

Jangan Diabaikan
Bila diketahui sejak dini, kualitas hidup anak dapat dimaksimalkan. Bahkan bila kondisi CP-nya tidak berat, si anak bisa kembali normal. Pemeriksaan kehamilan secara teratur, sejak awal hingga menjelang melahirkan, juga bisa mencegah CP.
Gangguan kehamilan seperti muntah-muntah hebat, apalagi sampai menyebabkan dehidrasi pada ibu, tidak boleh diabaikan. Konsumsi makanan saat hamil juga harus dijaga betul, agar tidak mengalami keracunan. Kedua hal itu bisa menjadi faktor pemicu CP.

Kelainan CP meliputi beberapa tipe, yakni kelumpuhan yang terjadi pada kedua kaki dan tangan (quadriplegia), kelumpuhan pada kedua kaki lebih parah daripada yang dialami kedua tangan (diplegia), hanya sesisi tubuh yang terkena dan kelumpuhan tangan lebih berat ketimbang kaki (hemiplegia), kelumpuhan pada kedua tangan dan satu kaki (triplegia), dan hanya terjadi satu kelumpuhan, biasanya pada tangan (monoplegia).

Klasifikasi CP juga bisa dibagi dalam jenis gangguan gerak yang terjadi, yaitu spastic (otot-otot kejang dan kaku), athetoid (gerak tubuh tidak terkontrol), dan ataxic (keseimbangannya kacau), sehingga bila berjalan akan sempoyongan.

Peran Orangtua
Berdasarkan jenis kelainan tersebut, bisa diperkirakan kemampuan apa saja yang mungkin dicapai si anak kelak. Misalnya, apakah si anak mampu berjalan sendiri atau memerlukan alat bantu, bisakah ia bangkit dari duduk tanpa bantuan orang lain, sanggupkah ia menggunakan tangannya dengan baik, dan sebagainya.

Saat ini tersedia banyak terapi untuk memaksimalkan mutu hidup anak CP, sebut saja terapi okupasi, fisioterapi, dan lain-lain. Peran orangtua jelas sangat besar dalam hal ini karena latihan (terapi) harus dilakukan juga selama di rumah.

Tiap orangtua pasti mengharapkan hal yang terbaik bagi buah hatinya, sekalipun dia menderita CP. Untuk mencapai itu, dibutuhkan upaya tanpa kenal lelah, optimisme, dan sikap realistis.

Tak ada salahnya meniru sikap ibunda dari Christy Brown (kisah sejatinya diangkat ke dalam film My Left Foot, dibintangi Daniel Day-Lewis). Ia yakin bahwa putranya yang menderita CP sejak lahir itu memiliki kehebatan. Mereka berusaha keras, dan dengan kaki kirinya Christy mampu menghasilkan sejumlah lukisan, puisi, dan otobiografi. Ia pun menjadi seniman Irlandia yang ternama.

Disadur dari : http://kesehatan.kompas.com/read/2010/01/27/09414885/Bayi.Selalu.Lemas.Awas.Celebral.Palsy


Langsingkan Tubuh dengan Yoga!


Mungkin Anda termasuk satu di antara banyak orang yang merasa frustrasi karena kesulitan menurunkan berat badan. Itu tak mengherankan. Pasalnya, kenaikan berat badan adalah masalah yang begitu kompleks. Ada pengaruh faktor genetik, gaya hidup, pola makan, dan lain-lain.

Manfaat latihan yoga yang langsung dirasakan secara fisik adalah mengendurnya otot-otot yang kaku gara-gara kurang gerak, ketegangan, dan stres. Gerakan-gerakan yoga juga meningkatkan jangkauan pergerakan persendian, meningkatkan fleksibilitas, dan membantu mengoreksi postur tubuh yang keliru gara-gara kenaikan berat badan.

Latihan yoga membantu menguatkan dan memperpanjang otot, sehingga tubuh jadi lebih langsing dan berbentuk indah setelah berlatih. Namun, tubuh yang berbentuk ini tak selalu diikuti dengan penurunan berat badan. Ingat, otot lebih padat dan lebih berat dibandingkan dengan volume jaringan lemak.

Potensial Membakar Kalori
Dalam yoga ada juga latihan pranayama. Latihan pernapasan ini membuat energi vital atau prana dalam tubuh bergerak. Hal ini dapat membantu mengatasi masalah ketika Anda mengalami kenaikan berat badan, tetapi malah loyo karena tingkat energi tubuh menurun.

Manfaat lain yoga adalah dalam aspek psikologi. Kenaikan berat badan kerap menjadikan diri memberi komentar negatif. Lewat yoga kita mencoba mencegah hal ini dengan menciptakan lingkungan yang aman dan positif untuk menyambungkan kembali tubuh dan menghilangkan pesan-pesan negatif yang sering muncul di pikiran.

Latihan asana juga dapat memupuk kontrol terhadap diri sendiri yang baru. Ini adalah kualitas yang sering hilang ketika berat badan membumbung. Di tingkat fisiologis, yoga aliran-aliran tertentu mungkin pas untuk orang yang benar-benar menginginkan penurunan berat badan. Kelas Vinyasa yang memadukan gerakan dan pernapasan bersamaan dapat menciptakan panas dan akhirnya potensial menyebabkan banyak pembakaran kalori untuk penurunan berat badan.

Buat Anda yang mungkin tak pernah berolahraga, ada baiknya mencoba kelas yoga Vinyasa untuk pemula. Jangan langsung mengambil kelas yang sudah menengah, apalagi yoga Asthanga. Mungkin ini bukan aliran yang tepat buat Anda yang secara fisik tidak aktif sebelumnya.

Nafsu Makan Terkontrol
Yoga memang tidak memberikan janji muluk dalam penurunan berat badan secara cepat. Yoga hanya menjanjikan dua manfaat utama untuk orang yang ingin menurunkan berat badan. Pertama, yoga memperbaiki pencernaan dan menghilangkan sembelit, retensi air, dan perut kembung. Kedua, yoga memperbaiki sirkulasi darah menuju ke kelenjar-kelenjar endokrin utama, yaitu tiroid dan pankreas.

Kedua kelenjar inilah yang membantu mengontrol nafsu makan, suasana hati, pola tidur, serta istirahat.

Belum banyak ahli yang menerima bahwa latihan yoga adalah jalan pasti menuju penurunan berat badan. Namun, penelitian terbaru dari Fred Hutchinson Cancer Research Center di Seattle AS mulai membuka wawasan bahwa yoga juga bermanfaat untuk melangsingkan.

Para peneliti di lembaga itu menanyai pria dan wanita sehat mengenai riwayat bobot tubuh dan aktivitas fisik mereka dari usia 45 hingga 55 tahun. Diungkapkan bahwa subjek yang mengalami kelebihan berat badan dan berlatih yoga paling tidak seminggu sekali mengalami penurunan bobot 2,5 kilogram selama lebih dari 10 tahun.

Orang berberat badan normal yang rajin latihan yoga dilaporkan tidak naik beratnya, sedangkan mereka yang tak latihan naik terus. Sementara mereka yang kelebihan bobot dan tak pernah latihan yoga, berat badannya naik empat kilogram.

Kesadaran Pikiran
Alan Kristal, peneliti utama sekaligus praktisi yoga dalam penelitian itu yakin, penyebab penurunan berat badan setelah latihan yoga bukan karena jumlah kalori yang dibakar. Hanya latihan yoga aliran tertentu yang membakar banyak kalori untuk memicu penurunan berat badan.

“Yoga itu membangun kesadaran pikiran,” kata Kristal, yang juga profesor di bidang epidemiologi di University of Washington School of Public Health. “Anda akan belajar kapan merasa kenyang, dan Anda tak suka makan kebanyakan. Selain itu, Anda akan mengenali kecemasan dan stres, sehingga tak ingin menutupinya dengan makan,” tambahnya.

Jadi, apakah yoga akan melangsingkan tubuh kita? Hmmm… mungkin. Lalu, akankah yoga mengubah cara pandang Anda terhadap diri dan tubuh sendiri? Tentu saja. @diy

Disadur dari : http://kesehatan.kompas.com/read/2010/01/27/10124221/Langsingkan.Tubuh.dengan.Yoga

Jangan Paksakan Makanan Padat Buat Bayi


Sistem pencernaan yang belum matang membuat bayi tidak boleh diberi makanan padat sebelum waktunya. Di usia 6 bulan, barulah sistem perncernaan itu mulai siap untuk mengolah makanan padat.

Air susu ibu (ASI) merupakan makanan pokok bayi sejak lahir. Saat bayi beranjak besar, energi yang dibutuhkan tentu semakin banyak. Itulah sebabnya, ia perlu dikenalkan pada makanan padat. Kebutuhan akan makanan tersebut umumnya dimulai ketika bayi berusia 6 bulan.

Karena ketidaktahuan, masih sering kita lihat orangtua yang terlalu cepat memberi makanan padat kepada bayinya. Usia bayi baru menginjak dua bulan pun sudah coba-coba disuapi bubur khusus, bahkan pisang ambon. Alasannya supaya anak cepat besar, kalau bukan dianggap bahwa si bayi sudah tidak cukup dengan ASI. Tindakan ini menurut para ahli justru dapat menimbulkan gangguan pencernaan.

Belum Sempurna
Yang disebut makanan padat bagi bayi adalah makanan dengan konsistensi lebih padat, bukan makanan keluarga. Misalnya bubur saring, bubur susu, nasi tim, biskuit khusus, termasuk buah-buahan dan sayuran yang dilumatkan.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF (badan dunia yang menangani masalah anak-anak) manfaat ASI yang sedemikian banyaknya membuat mereka mengeluarkan pernyataan agar ibu terus memberi ASI eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan.

Pernyataan itu sebenarnya tidak semata-mata karena manfaat ASI. Menurut Dr. Saptawati Bardosono, MSc.,Ph.D, badan dunia itu menyadari bahwa enzim pencernaan bayi berusia di bawah 6 bulan, belum siap. Pemberian makanan padat sebelum usia 6 bulan dikhawatirkan akan membuat bayi diare karena proses penyerapannya belum sempurna.

Hal penting lain yang juga perlu dipertimbangkan, bila bayi diberi makanan padat sebelum waktunya, produksi ASI akan menurun. Hal itu selanjutnya dapat mengganggu kedekatan emosi antara bayi dan ibu yang sedang terjalin.

Melihat faktor-faktor tersebut memang ASI teramat baik untuk dijadikan makanan hingga bayi berusia 6 bulan. Setelah itu, manakala enzim pencernaan sudah matang, barulah bayi boleh dikenalkan pada makanan padat.

Pada usia 6 bulan, dijelaskan, Mary L. Gavin, MD, Steven A. Dowshen, MD, dan Neil Izenberg, MD, dalam buku Fitkids, A Practical Guide to Raising Healthy and Active Children-from Birth to Teens, kepala dan leher bayi juga sudah cukup kuat. Dan itu juga berpengaruh terhadap proses pemberian makanan.

Harus Bertahap
Saat bayi sudah dapat mengontrol kepala dan lehernya, makanan yang disuapkan padanya tidak akan dikeluarkan lagi. Rupanya, sebelum usia tersebut, bila bayi disuapi, secara refleks ia akan mengeluarkan makanan itu.

Tanda lain yang kerap digunakan untuk mulai memberikan makanan padat juga bisa dilihat dari perkembangan bayi tersebut. Saat bayi mulai bisa duduk, menjulurkan kepalanya saat disodori makanan, atau meraih makanan yang sedang Anda santap, bisa menjadi pertanda bahwa bayi siap diberi makanan padat. Namun, para ahli tetap memberikan patokan usia 6 bulan.

Pemberian makanan padat sebaiknya dilakukan secara bertahap. “Tentunya supaya pencernaan bayi tidak kaget,” kata Dr. Saptawati. Kondisi ini sepenuhnya bisa dipahami. Sistem pencernaan yang tadinya hanya dialiri cairan ASI, tiba-tiba kedatangan benda baru yang padat.

Supaya sistem pencernaan bisa mengenali dan beradaptasi dengan baik, tentu saja makanan harus diberikan sedikit demi sedikit. Pengenalan berbagai jenis makanan juga mesti diberikan secara bertahap, misalnya mulai dari bubur susu, bubur biasa, nasi tim, hingga nasi.

Biskuit yang diencerkan dengan susu formula atau ASI juga bisa diikutsertakan. Begitu juga dengan buah-buahan dan sayuran, harus dilumatkan terlebih dahulu.
Jika sudah memungkinkan, makanan padat bisa diberikan tiga kali sehari dalam porsi kecil.

Contoh Makanan Padat
:
Usia 6 bulan
Bubur susu 1-2 sendok makan, dua kali sehari.
Sayuran dalam jumlah sekitar 1-2 sendok makan, dilumatkan.
Buah dalam jumlah kecil, sekitar 1-2 sendok makan, dilumatkan.

Usia 7 bulan
Bubur susu 2-3 sendok makan, dua kali per hari.
Sayuran 2-4 sendok makan, dilumatkan.
Buah 2-4 sendok makan, dilumatkan.
Ikan, daging, ayam, 1-2 sendok makan, dilumatkan.
Kentang 1 sendok makan, dilumatkan.

Usia 8 bulan
Bubur susu 2-3 sendok makan, dua kali per hari.
Sayuran 6-8 sendok makan, dilumatkan.
Buah 2-4 sendok makan, dihaluskan.
Daging, ikan, ayam, 1-2 sendok makan, dilumatkan.
Kentang, nasi, 1-2 sendok makan, dilumatkan.

Usia 9 bulan
Bubur susu 3-4 sendok makan, dua kali sehari.
Sayuran 2-3 sendok makan, dilumatkan.
Buah 3-4 sendok makan, dihancurkan.
Ikan, daging, ayam, 1-2 sendok makan, dilumatkan.
Kentang, nasi, 2-3 sendok makan, dilumatkan.

Usia 10 bulan
Bubur susu 3-4 sendok makan, dua kali sehari.
Sayuran 3-4 sendok makan, dilumatkan atau dicincang kasar.
Buah 3-4 sendok makan, dihancurkan atau dicincang kasar.
Ikan, daging, ayam, 1-2 sendok makan, dilumatkan atau dicincang kasar.
Kentang, nasi, 2-3 sendok makan, dilumatkan.

Usia 11 bulan
Bubur susu 4 sendok makan, dua kali sehari.
Sayuran 3-4 sendok makan, dilumatkan atau dicincang kasar.
Buah 3-4 sendok makan, dihancurkan, dilumatkan, atau dicincang.
Ikan, daging, ayam, 2-4 sendok makan, dilumatkan atau dicincang.
Kentang, nasi, 4-5 sendok makan, dilumatkan atau dicincang.

Usia 12 bulan
Bubur susu 4 sendok makan, dua kali sehari.
Sayuran 3-4 sendok makan, dicincang kasar.
Buah 3-4 sendok makan, dicincang.
Ikan, daging, ayam, 3-4 sendok makan, dicincang.
Kentang, nasi, 2-3 sendok makan, dicincang atau sedikit dihancurkan.

Disadur dari : http://kesehatan.kompas.com/read/2010/01/25/09595816/Jangan.Paksakan.Makanan.Padat.Buat.Bayi

Kapan Waktu Terbaik Ajarkan "Toilet Training" pada Anak


Bila Anda berencana untuk menanggalkan popok si kecil dan mengajarkan ia menggunakan toilet, waktu terbaik untuk melakukannya adalah saat anak berusia antara dua hingga tiga tahun.

Studi teranyar merekomendasikan para orangtua untuk mulai mengenalkan toilet training saat anak berusia 27-32 bulan. Anak yang baru mulai belajar menggunakan toilet di atas usia 3 tahun cenderung lebih sering mengompol hingga usia sekolah. Sebaliknya, bila Anda mulai mengenalkan anak untuk pipis dan buang air besar di toilet sebelum ia berusia 27 bulan justru lebih sering gagal.

Selama ini terdapat dua pendapat berbeda mengenai kapan waktu terbaik untuk mulai mengajarkan toilet training pada anak. Pendapat pertama menyebutkan, untuk mengajari anak sedini mungkin, sedangkan pendapat lain menyebutkan untuk menunggu hingga anak besar dan ia mulai menunjukkan tanda siap. Namun, belum ada studi yang bisa menyebutkan kapan usia paling tepat untuk memulai transisi dari popok ke toilet ini.

Meski salah satu cara mengajarkan toilet training adalah dengan memberi contoh, namun para peneliti dari Amerika Serikat dalam laporannya yang dimuat dalam Journal of Pediatric Urology mengatakan bahwa waktu yang tepat jauh lebih penting daripada teknik.

Para peneliti melakukan studi dengan mewawancarai 157 orangtua yang memiliki anak berusia 4-12 tahun yang rutin berkonsultasi pada dokter karena anaknya masih mengompol. Para orangtua tersebut ditanyai kapan mereka mulai mengajarkan toilet training dan metode apa yang dipakai. Jawaban para responden itu kemudian dibandingkan dengan orangtua dari 58 anak yang memiliki kemiripan usia, gender, ras, dan faktor lain, namun tidak punya masalah mengompol.

Pada anak yang masih mengompol di usia 4-12 tahun, rata-rata mereka mulai diajarkan toilet training oleh orangtua saat mereka berusia 31 bulan, dibandingkan dengan anak dari kelompok tak mengompol 28,7 bulan.

Peter Stavinoha, penulis buku Stress-Free Potty Training, mengatakan bahwa usia tidak bisa dijadikan patokan untuk menentukan kapan anak harus mulai diajarkan menggunakan toilet.

"Meski rata-rata anak sudah bisa diajarkan di usia 2,5 tahun tapi tidak semua anak sama. Kuncinya adalah saat perkembangan fisik, emosi, dan psikologis anak siap," kata Stavinoha, ahli neuropsikologis klinis dari Children's Medical Center, Dallas, AS.

Tanda-tanda anak mulai siap diajarkan adalah dapat duduk tegak, punya ritme ke toilet dalam 2-3 jam, dapat membuka dan memakai celana sendiri, bisa memahami instruksi sederhana dan sudah bisa mengatakan keinginannya.

"Orangtua harus menjadi pembimbing, memfasilitasi, dan menyemangati anak. Hindari memaksakan kehendak pada anak, biarkan anak melewati tahapan-tahapan toilet training," saran Stavinoha.

Disadur dari : http://kesehatan.kompas.com/read/2010/01/25/11053158/Kapan.Waktu.Terbaik.Ajarkan..quot.Toilet.Training.quot..pada.Anak

Anak Sering Dengar Suara Misterius, Normalkah?


Riset menunjukkan, hampir satu dari 10 anak berusia tujuh hingga delapan tahun diperkirakan sering mendengar suara-suara yang sebenarnya tidak ada. Meski begitu, orangtua tak perlu khawatir karena "kemampuan" tersebut tidak akan mengganggu pola berpikir anak.

"Suara-suara ini secara umum memiliki pengaruh yang terbatas pada kehidupan sehari-hari. Pada banyak kasus, sebagian besar suara yang didengar oleh anak akan menghilang dengan sendirinya. Saya menyarankan para orangtua untuk menenangkan mereka dan mengawasinya dengan lebih dekat lagi," kata Agna A Bartels-Velthuis dari University Medical Center Groningen, Belanda.

Dalam riset yang dipublikasikan Journal of Psychiatry itu, peneliti juga menyatakan, sekitar 16 persen anak dan remaja yang mentalnya sehat mungkin juga pernah mendengar suara-suara misterius tersebut. Meski "mendengar suara" dapat menjadi pertanda adanya risiko mengidap skizofrenia dan gangguan mental lainnya, peneliti menyatakan, mayoritas anak dan remaja yang mengalami semacam halusinasi pendengaran ini tak mengalami gangguan jiwa.

Untuk meneliti kaitan antara "halusinasi suara auditori" dan faktor pertumbuhan serta perilaku anak, Bartels-Velthuis dan timnya melibatkan 3.870 anak sekolah yang ditanyai apakah mereka mendengar suara-suara yang tidak didengar orang lain.

Sembilan persen anak menjawab ya dan hanya 15 persen anak mengatakan suara-suara tersebut menyebabkan mereka menderita. Sebanyak 19 persen lainnya menjawab, suara-suara itu mengganggu pola pikir mereka. Meski suara-suara itu didengar baik oleh anak laki-laki atau perempuan, anak perempuan mengaku lebih cemas dan menderita karena suara yang mereka dengar.

Studi sebelumnya menyebutkan, suara yang didengar anak-anak disebabkan oleh komplikasi yang terjadi pada saat mereka dalam kandungan. Namun, Bartels-Velthuis dan timnya tidak menemukan kaitan tersebut.

Awalnya, para peneliti juga memperkirakan, suara-suara yang didengar lebih sering dialami oleh anak di perkotaan ketimbang yang tinggal di pedesaan. Namun, secara mengejutkan, yang terjadi justru sebaliknya. "Hal yang bertolak belakang justru terjadi pada sampel (penelitian) kami, tetapi kami tidak bisa menjelaskan temuan ini," ungkap peneliti.

Walaupun lebih jarang mendengar suara misterius, anak-anak kota justru lebih sering merasa terganggu dengan suara ini. Mereka lebih sering mengeluh mendengar beberapa suara pada suatu saat tertentu, suara orang yang berbicara lama, dan suara yang mengganggu pikiran mereka.

Menurut peneliti, keluhan yang sangat mengganggu mengindikasikan bahwa anak-anak kota yang mendengar suara ini mungkin memiliki risiko lebih besar mengalami gangguan psikotik.

Disadur dari : http://kesehatan.kompas.com/read/2010/01/26/09265933/Anak.Sering.Dengar.Suara.Misterius..Normalkah

Amankah Memakai Komputer Saat Hamil?


Pada bulan-bulan awal kehamilan, calon ibu sering dibayangi rasa takut akan kondisi dan kesehatan janinnya. Salah satu hal yang kerap membuat calon ibu khawatir adalah mengenai pengaruh radiasi komputer pada kehamilan.

Sebenarnya hingga saat ini belum ada penelitan yang membuktikan bahaya gelombang elektromagnetik yang dikeluarkan komputer pada kehamilan.

"Belum ada bukti yang menyatakan bekerja di depan komputer akan menyebabkan keguguran atau cacat pada janin," kata Lori Wolfe, konselor genetik dari Amerika Serikat.

Yang pasti, duduk terlalu lama di depan komputer bisa membuat pegal, apalagi untuk ibu hamil. Duduk terlalu lama bisa menghambat sirkulasi darah dan menyebabkan sakit punggung. Karena itu ibu hamil disarankan untuk melakukan peregangan ringan atau sesekali berjalan berkeliling untuk melancarkan peredaran darah.

Perhatikan juga postur tubuh saat duduk. Meski perut terus membusung, jangan menekuk pinggang ke belakang. Bila perlu Anda juga boleh melakukan pemijatan lembut di daerah terasa pegal untuk mengurangi rasa nyeri dan pegal.

Disadur dari : http://kesehatan.kompas.com/read/2010/01/21/12415929/Amankah.Memakai.Komputer.Saat.Hamil

8 Penyebab Payudara Kendur

Saat perempuan mencapai usia tertentu, payudaranya akan mengendur. Hal itu wajar karena kelenjar susu mengecil, sehingga ada ruang kosong dalam kulit pembungkus payudara.

Kekenduran itu juga bisa diakibatkan perubahan tubuh yang drastis, sehingga lemak dalam payudara berkurang. Sementara kondisi itu tidak disertai mengecilnya kulit pembungkus payudara.

Seorang insinyur pesawat terbang kelahiran Newport, Texas, Amerika Serikat, Ir. N.O. Brantly menyatakan, seperti pesawat terbang, tubuh manusia juga terkena hukum gravitasi. Bagian tubuh itu terutama yang menonjol dan tidak disangga, misalnya oleh otot atau tulang. Tonjolan yang dimaksud adalah payudara.

Pendapat tersebut dibenarkan Dr. Melissa S. Luwia, MHA, dari Yayasan Kanker Indonesia. Karena menonjol dan tidak punya otot, payudara sangat terpengaruh gaya gravitasi. Itu sebabnya, menggantungnya (suspensi) organ ini mesti disangga oleh alat tertentu. Alat itu biasa kita sebut bra, kutang, penyangga payudara, atau BH (breast holder).

Menurut Brantly, BH justru merupakan penyebab terbanyak yang membuat payudara tidak indah. Sayangnya, tidak banyak perempuan yang menyadarinya. Mereka tidak tahu, seperti apa BH yang terbaik untuk menunjang keindahan payudara.

Berikut beberapa faktor penyebab turun dan kendurnya payudara selain hal-hal yang sudah disebut.

1. Melahirkan dan menyusui. Ukuran payudara semakin berkembang seiring dengan usia kehamilan. Membesarnya payudara membuat massanya bertambah. Akibatnya, tarikan ke bawah semakin kuat.

2. Terlalu besar dan terguncang. Mirip dengan kasus ibu menyusui. Massa payudara mempengaruhi tarikan gravitasi. Semakin besar massa, semakin besar juga gaya gravitasinya, apalagi kalau payudara selalu terguncang, khususnya pada para atlet.

3. Tidak ada penyangga. Membiasakan diri tanpa BH akan menyebabkan kendur, apalagi bila ukuran payudara tergolong besar.

4. Kebiasaan buruk. Tidur miring bisa membuat payudara kendur. Ini bisa dijelaskan dengan teori gravitasi bumi. Pada tidur miring, payudara tidak ada yang menyangga sama sekali, kecuali oleh BH. Berbeda dengan tidur telentang, karena payudara disangga oleh tubuh.

5. Penyakit. Penyakit seperti TBC (tuberkulosis) atau kanker bisa mengakibatkan payudara menjadi kecil, kendur, atau turun. Ini karena virus dan sel ganas yang merusak organ tubuh.

6. Kurang gizi. Walau konsumsi makanan bergizi lebih berguna untuk mengencangkan kulit, faktor ini sangat penting. Penyakit seperti TBC atau kanker bisa muncul akibat kurang gizi. Makanan seperti kubis, kacang kedelai, tempe, susu kedelai, dan bawang putih sangat bagus untuk mencegah kanker payudara.

7. Perlakuan kasar. Setiap inci dari tubuh kita harus diperlakukan secara halus, apalagi payudara. Perlakuan kasar seperti meremas-remas terlalu kuat, sangat menentukan keindahan payudara. Juga bila kita menggunakan BH yang membuat payudara tertekan, terjepit, dan lain-lain.

8. Kesalahan memakai BH. BH terlalu kecil, terlalu kencang, atau dibuat dengan bahan tidak bagus, bisa menyebabkan payudara tidak sehat. Akibatnya, payudara menjadi kendur dan turun. @ abd

Disadur dari : http://kesehatan.kompas.com/read/2010/01/20/16164290/8.Penyebab.Payudara.Kendur

Tes HPV Lebih Efektif dari Pap Smear


Kesadaran melakukan skrining untuk mendeteksi kanker bisa menyelematkan hidup kita. Dalam pencegahan kanker serviks, studi teranyar menunjukkan tes DNA HPV jauh lebih efektif untuk mendeteksi kanker lebih dini daripada pap smear.

Dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal kesehatan The Lancet Oncology, para ahli dari Italia mengatakan studi terhadap 95.000 wanita menunjukkan mereka yang melakukan tes HPV lebih sedikit yang terkena kanker serviks dibanding dengan kelompok yang hanya melakukan pap smear.

Saat ini terdapat beberapa metode skrining human papilloma virus penyebab kanker serviks, yakni pap smear (untuk mendeteksi perubahan sel di leher rahim), atau metode alternatif dengan asam asetat (IVA) yang menawarkan skrining menjanjikan.

Dalam studi yang dilakukan dengan mengikuti kesehatan para responden selama 3,5 tahun, diketahui bahwa tes HPV lebih sensitif daripada pap smear dalam mengetehaui perubahan sel serviks pra kanker. Para ahli juga menyarankan pengulangan tes HPV kurang dari lima tahun, sedangkan pap smear setiap tahun.

Dr.Guglielmo Ronco dan timnya dari Centre for Cancer Prevention, Italia, mengatakan tes HPV sebaiknya dilakukan oleh wanita berusia di atas 35 tahun yang melakukan skrining pertamakali. Bila hasilnya positif bisa dilanjutkan dengan pap smear dan terapi lain yang diperlukan.

"Berdasarkan data kami, tes HPV merupakan tes skirining yang sangat penting. Namun tes ini tidak disarankan untuk wanita berusia kurang dari 35 tahun," kata Ronco. Makin dini perubahan sel diketahui makin tinggi kemungkinan sembuhnya.

Disadur dari : http://kesehatan.kompas.com/read/2010/01/20/11143096/Tes.HPV.Lebih.Efektif.dari.Pap.Smear